Tampilkan postingan dengan label new year. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label new year. Tampilkan semua postingan

Bless Your Little Cotton Socks




Okay, for some reasons, I would like to learn to watch my writing. I would like to learn not to write everything I want to write. I actually want to shout everything here, as this is a private blog. At first, I thought I would make my blogspot private, so that it could only be accessed by certain people. However, I still want to inform some things I’ve learned from the world (so that I can give it back to the world). So I decided to start to switch the language of this blog into English.

Why English? Since I’m afraid that if I use Bahasa Indonesia, I will feel “too” comfortable to express my thoughts and feelings, then I will again and again talk about my personal problems in Bahasa Indonesia (I should learn to maintain my opinions. In my country, people don’t really believe in Freedom of Speech, so… even when I write private things in my private blog, there will be people who are against me sometimes...).

So... yeah! English is less private than Bahasa Indonesia. And it sounds more sophisticated somehow. *Iyaks like I’m sophisticated enough to use English too often. you crappy ugly rimski. XD

Anyway, I also think that writing this blog in English could help me to maintain my accuracy and improve my fluency. Like it or not, I have to. I want to study in the US or UK or New Zealand or Canada or Australia or or or or... (STOP IIIITTT!!!) And besides, I also want to teach English. So I have to get used to using English very much more often.


So for the first ENGLISH entry, I would like to tell you about a new idiom vocabulary given by my beloved lecturer, Mr. Bayu (okay, he’s no longer my lecturer, I’m his assistant now). And actually I already heard this idiom somewhere some time a go, but the way Mr. Bayu explained it to the class made the students understand the meaning of the idiom better (even I could understand the meaning better).


So here is the idiom:

Bless Your Little Cotton Socks



Can you guess the meaning of it?

Okay, if you’re English native speaker, don’t answer. It’s not fun anymore if this question is dedicated to the native speakers. XD

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ocehan Orang Mabuk Dalam Menyambut Tahun Baru

Tahun 2009 kemarin diakhiri dengan keonaran yang dibuat oleh kakak saya. Yang saya, dengan ini menyatakan, tidak mau menyalahkannya dan tidak mau merendahkan keputusannya seperti yang dilakukan orang-orang. Orang-orang itu tidak pernah mengorbankan banyak hal seperti yang telah kakak saya lakukan pada saya. Kebanyakan dari mereka berpura-pura baik pada saya padahal dalam hati sangat membenci saya. Oleh karena itulah, untuk kali itu, saya memutuskan untuk membela kakak saya. Dan dalam batas aturan-aturan tertentu, kakak saya masih belum melanggar batas. Setidaknya, begitulah pendapat saya.

Apabila selanjutnya tindakan saya ini dianggap sebagai tindakan pengkhianatan, kemunafikan, dan lain sebagainya, tentu saja itu terserah pada orang-orang yang berpendapat. Saya sudah lelah mengorbankan banyak hal untuk sesuatu yang saya tidak tahu apa. Dan setelah melakukan semua hal yang dituntut oleh banyak orang, saya tahu saya tidak dapat menyenangkan semua orang. Pasti akan ada pihak-pihak yang sakit hati. Tapi saya tidak mau bersusah payah seperti Pak Presiden SBY untuk mengembalikan nama baiknya dengan menggelar konferensi pers lalu menyatakan bahwa ini semua adalah fitnah dan segalanya bla bla bla. Biarlah Allah swt. yang menilai siapa yang benar dan siapa yang salah. Saya tidak punya pengetahuan apapun soal itu. Saya, seperti manusia lainnya, memiliki kemampuan rasio yang terbatas.Saya hanya melakukan apa yang saya lakukan dan saya sudah sampai di titik bahwa saya sudah muak untuk melakukan hal yang saya tidak tahu apa tujuannya. Itu saja yang saya tahu.

Karena hal-hal tidak bertujuan ini, seseorang telah mengarahkan saya untuk melakukan apa saja sesuai petunjuknya. Saya sudah melakukan semua yang dia arahkan. Tapi manusia memang tidak pernah merasa cukup. Tidak hanya dia. Banyak orang lain yang juga menuntut saya. Di dunia yang terlalu asing bagi saya. Padahal saya sendiri memiliki kehidupan lain yang jauh lebih nyata dan berharga. Namun nampaknya mereka tidak pernah mau mengerti dan terus menerjemahkan semua apa yang saya lakukan dengan segala keburukan di muka bumi. Dan tentunya, saat ini saya sudah tidak terlalu peduli lagi.

Pada akhirnya, saya menceritakan semua hal yang sudah saya tahan selama berbulan-bulan. Saya ceritakan pada salah satu sahabat terbaik saya. Dan dia mengatakan bahwa dia memahami perasaan saya. Sekejap, semua tuduhan, prasangka buruk, fitnah, fakta yang ditambah-tambahkan, fakta yang diputarbalikkan (sampai akhirnya saya hampir gila dan bingung untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah), semua tersapu habis dengan sedikit kata-kata darinya. Sekejap saya merasakan kebahagiaan dan saya merasa tidak sia-sia mempercayai dia selama ini. Karena dia pun percaya pada saya. Sesuatu yang tidak bisa saya temukan pada orang-orang lain di tempat yang saya pun tidak tahu apa namanya itu.

Lalu saya, dengan sedikit amanah yang tersisa, karena orang yang sangat saya hargai memaksa saya untuk bertahan. Akhirnya saya bertahan. Karena sahabat saya, orang yang saya hargai, dan beberapa orang baik yang saya temui.

Saya sudah banyak mengubah cara kerja dan cara berpikir saya untuk menyesuaikan dengan kemauan orang yang dulu saya percaya. Saya sudah kehilangan banyak teman-teman saya dan mungkin kehilangan diri saya sendiri karena sudah menuruti apapun yang dia anggap pantas. Tapi pada akhirnya saya sadar bahwa dia ternyata tidak menganggap saya apapun melainkan batu sandungan yang harus disingkirkan. Tapi itu pun tidak apa-apa. Karena akhirnya saya banyak belajar.

Di tahun 2010 ini, ucapan selamat tahun baru dari orang-orang yang saya sayangi membuat saya bersemangat untuk bertahan meski saya juga tidak tahu sampai kapan saya akan bertahan. Saya ingin memulainya lagi dengan orang-orang yang dengan senang hati bersikap baik pada saya. Saya ingin menjadi orang yang tidak mementingkan cara dan sistem saja, tapi juga memperhatikan apa yang diinginkan oleh orang-orang yang berinteraksi dengan saya.

Dan saya sudah memulainya hari ini. Melihat percakapan bahagia antara orang-orang yang baik pada saya membuat saya juga bahagia. Saya tidak lagi mengikat diri saya pada prasangka-prasangka pada orang-orang di sekitar saya. Karena dahulu, prasangka-prasangka itulah yang membuat hubungan saya menjadi tidak baik dengan mereka. Saya kembali mendapatkan kebebasan saya. Tidak perlu lagi dituntut seolah-olah ini adalah beban yang ditimpakan pada pundak saya.

Meskipun saya harus melalui berbagai tragedi tidak penting karena prasangka-prasangka tersebut, setidaknya saya sudah belajar beberapa hal.

Dan biarlah prasangka itu terus ada. Karena sekarang, saya sudah tidak takut lagi dengan prasangka-prasangka yang ada.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Movement

wowowowowow

kayaknya saya akan menulis lebih dari 2 entri blog hari ini.
tadi pagi2 buta udh ngepost soal favourite things yg ingin saya ingat2 terus untuk membangkitkan semangat kuliah saya yang sudah mulai luntur di detik2 terakhir saya kuliah.

Nah, sekarang ada sedikit pencerahan lagi. Pertama: karena hari ini Tahun Baru Hijriah. Kedua: karena akhirnya hari ini aku menonton New Moon *hehehehhe maaf ya twilight haters XD

tp untuk kali ini saya ingin memulai dengan hikmah yang saya dapat dari beberapa artikel yang saya baca mengenai Tahun Baru Hijriah.

Yah, kita tahu kalau tahun baru Hijriah itu ditandai dengan hijrahnya Rasulullah saw. ke Madinah karena terlalu banyak tekanan untuk menyebarkan agama Islam di Mekah.

Dari proses "hijrah" ini saya merasa bahwa Islam itu begitu adil. Karena, Rasulullah saw. berusaha keras menyebarkan agama Islam di kota kelahirannya. Akan tetapi, beliau dan pengikutnya malah dimaki, difitnah, disakiti, disiksa, dibunuh, dsb. Mereka tidak melawan. Mereka malah memutuskan untuk "berpindah" ke tempat di mana orang-orang lebih mau menerima mereka.

Jadi sebenarnya, Rasulullah saw. pun saat menghadapi konfrontasi dari pihak yang tidak sependapat, beliau tidak melawan dan menyerang secara frontal, tapi tidak juga mengalah dan berdamai. Karena bagaimanapun juga ia tetap meyakini Islam, sesuatu yang menjadi masalah bagi orang-orang yang tidak bisa menerima beliau. Jalan keluar terbaik yang diajarkan Rasulullah saw. adalah berpindah ke tempat di mana orang2 lebih menawarkan kedamaian dan mau dengan senang hati menerima Islam.

Kupikir, "berpindah" adalah jalan yang cukup tepat bagi saya saat ini. Maksud saya, saya ini adalah tipe orang yang sangat dibenci orang lain, sama seperti Islam di mata orang2 Quraisy saat itu. Tapi bagaimanapun bencinya orang2 itu terhadap saya, apapun yang mereka lakukan pada saya, saya sebaiknya tidak menyerang mereka secara frontal. Saya sebaiknya menghindari mereka saja dan berpindah pada orang-orang yang lebih mau menerima saya apa adanya.

Jadi, bullsh** lah itu orang2 yang bilang kalau Islam itu harus radikal, harus menyerang, harus fanatik, dsb.

Ada prosesnya untuk mencapai kata "jihad dan perang." Seperti saat Rasulullah saw. dan umatnya disksa, mereka bersabar terlebih dahulu, kemudian mereka berhijrah, kemudian setelah mereka masih dimusuhi (bahkan setelah berhijrah), maka mereka berperang. Umat Islam itu seharusnya memang tidak lemah dan tidak tunduk pada musuh, tetapi umat Islam juga hanya menyerang bila diserang.

You know, I think I love him even more. You know, my Prophet, Muhammad saw.
He's unbelievable.

Jadi, sekali lagi saya mengucapkan Selamat Tahun Hijriah bagi teman2 sesama Muslim. Semoga kita semua bisa "berhijrah" ke arah yang lebih baik dalam hidup ini. :D

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS