Tampilkan postingan dengan label short story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label short story. Tampilkan semua postingan

Ich Liebe Meine Mutti :)

A short story written by me. Dedicated to my Mom. I do love you, Mom. I just don't love those people around you...

Kaya dan Negeri Pelangi
Oleh: Rima Muryantina

Pada zaman yang tidak terlalu dahulu kala, di sebuah kota, tinggallah seorang anak perempuan bernama Kaya. Kaya tinggal di sebuah rumah besar bersama ibunya. Setiap hari, ibunya menyuruh Kaya untuk pergi ke sekolah. Kaya tidak suka sekolah. Ia selalu dijahili oleh anak-anak lain di sekolah. Setiap hari, anak-anak mengejeknya, Berkali-kali Kaya meminta mereka untuk diam, tetapi mereka tidak mau diam dan terus mengejek Kaya.

Suatu hari, ketika hari sedang hujan, Kaya sudah sangat kesal dengan anak-anak di sekolahnya. Ia tidak ingin sekolah. “Aku tidak ingin sekolah, Ma,” begitu kata Kaya pada ibunya. “Tapi kamu harus sekolah. Kamu harus belajar di sekolah supaya pintar,” ujar ibunya.

Kemudian ibunya juga menasihati Kaya agar mau bergaul dengan anak-anak lain di sekolah. “Aku tidak mau bergaul dengan mereka. Mereka hanya mau menghinaku,” seru Kaya dengan kesal. Ibunya berkata, “Kamu belum mencoba. Kamu harus berusaha untuk bisa berteman dengan mereka.”

Kaya yang kesal akhirnya berangkat ke sekolah sambil membanting pintu. Ia berjalan di tengah hujan tanpa membawa payung. “Semua orang tidak pernah mendengarkan aku dan berbicara sesuka mereka! Aku ingin pergi ke dunia tempat orang-orang tidak bisa berbicara!” seru Kaya sambil berteriak ke langit.

Saat itu, tiba-tiba Kaya mendengar suara dari belakangnya. “Keinginanmu bisa kukabulkan,” ujar suara itu. Kaya menengok ke belakang dan melihat seorang pria tinggi yang berpakaian serba hijau. Pria tinggi itu mengenakan topi hijau, kemeja hijau, jas hijau, celana panjang hijau, dan sepatu hijau. Ia juga membawa sebuah payung berwarna hijau.

“Keinginanmu akan kukabulkan, Kaya. Tapi kau harus bersedia memakai payungku ini,” ujar pria berpakaian hijau tersebut.
“Kamu siapa? Kenapa tahu namaku?” tanya Kaya pada pria berpakaian hijau itu.
“Aku Tuan Payung dari Negeri Pelangi. Aku mengabulkan keinginan anak-anak yang sedang bersedih. Tapi dengan satu syarat, anak yang bersedih itu harus bersedia mengenakan payungku,” ujar Tuan Payung dari Negeri Pelangi.
Kaya sebenarnya tidak terlalu percaya dengan kata-kata Tuan Payung dari Negeri Pelangi. Akan tetapi, ia tetap menerima payung tersebut dari Tuan Payung. Kaya pikir, “Mungkin orang ini hanya orang baik yang ingin meminjamkan payung padaku supaya aku tidak kehujanan.”

Ketika Kaya memegang payung tersebut, tiba-tiba Kaya terbang dengan payung hijau itu ke atas langit. Kaya terbang melewati awan. Hujan perlahan berhenti dan langit pun mulai terlihat cerah. Kaya melihat ada pelangi muncul di tengah-tengah awan. Di sana, ada anak-anak kecil yang bersayap sedang bermain-main. Mereka berseluncur di atas pelangi. Mereka memainkan awan seolah-olah awan-awan itu adalah gulali. Anak-anak itu kemudian membentuk sebuah tulisan dengan awan-awan tersebut. Tulisan itu menunjukkan pesan: “Selamat Datang di Negeri Pelangi”

Kaya yang masih melayang dengan payung hijaunya, kemudian mendekat ke arah anak-anak bersayap itu. Anak-anak bersayap itu mengajaknya bermain tanpa berbicara apa-apa. Mereka hanya bisa tertawa dan bersuka cita. Mereka tidak mengeluarkan kata-kata yang menyakiti Kaya. Semua sesuai dengan harapan Kaya. Kaya bahkan tidak perlu memperkenalkan diri pada mereka, mereka sudah langsung menerima Kaya sebagai bagian dari Negeri Pelangi. Kaya memang tidak kehilangan suaranya, tapi ia tidak perlu mengeluarkan suaranya karena tidak ada yang menuntutnya untuk bersuara. Kaya hanya diajak tertawa dan bersenandung bersama mereka.

Sejak saat itu, Kaya tinggal di Negeri Pelangi dan tiap hari bermain bersama anak-anak bersayap. Mereka berseluncur di atas pelangi, memakan gulali awan, menangkap bintang-bintang di saat malam, tidur di atas Nyonya Bulan, mendengarkan senandung burung yang berterbangan, dan menonton pertunjukan pantomim yang dilakukan oleh Tuan Matahari. Tidak ada yang bertengkar karena tidak ada yang berbicara. Sehari-harinya, mereka hanya tertawa dan bersenandung bersama.

Pada suatu malam, ada sebuah bintang jatuh. Anak-anak Negeri Pelangi berusaha mengejar bintang jatuh tersebut. Mereka berlomba-lomba untuk menangkapnya. Biasanya, setiap malam, anak-anak bersayap akan mengejar dan menangkap bintang tanpa harus bertengkar karena jumlah bintang di malam hari tak terhitung banyaknya. Mereka tidak pernah kekurangan bintang. Akan tetapi, kali ini mereka bertengkar memperebutkan bintang jatuh karena jumlah bintang jatuh hanya ada satu. Anak-anak bersayap yang tadinya hidup damai kini jadi saling memukul dan menjambak. Mereka menarik-narik bintang jatuh sambil saling membentak.

Kaya berusaha mendiamkan dan melerai teman-temannya. Namun, anak-anak bersayap tidak mendengarkan. Karena semua anak berteriak, secara bersahut-sahutan, kata-kata Kaya tidak lagi didengarkan. Akhirnya Kaya pun mengumpulkan gumpalan-gumpalan awan dan membuat tulisan di dekat pelangi. Kaya menulis “MAAF” dengan huruf yang sangat besar.

Nyonya Bulan memantulkan cahaya dari Tuan Matahari untuk membantu Kaya menerangi tulisan dari gumpalan awan tersebut. Karena cahaya yang dipantulkan Nyonya Bulan cukup terang, akhirnya anak-anak bersayap memperhatikan tulisan tersebut. “Kalian harus saling meminta “Maaf,” ujar Kaya pada anak-anak bersayap. “Ayo kalian bilang “maaf” satu sama lain,” pinta Kaya pada teman-temannya.

Setelah mendengar anjuran Kaya, anak-anak bersayap saling mengucapkan “maaf.” Setelah mengucapkan kata itu, mereka tidak lagi merasa kesal satu sama lain. Mereka menangis dan menyesal sudah bertengkar hanya karena ingin memperebutkan bintang jatuh. Meskipun begitu, mereka masih bingung harus melakukan apa pada bintang jatuh tersebut. Saat itulah, Tuan Payung yang berpakaian serba hijau tiba-tiba datang dan menawarkan bantuan pada Kaya. “Kaya, karena kamu sudah mendamaikan anak-anak bersayap dan mengajari mereka kata “maaf,” kamu boleh mendapatkan bintang jatuh itu dan menggunakannya sesukamu,” ujar Tuan Payung.

Anak-anak bersayap setuju. Mereka menyerahkan bintang jatuh itu pada Kaya. Ketika memegang bintang jatuh itu, Kaya teringat akan ibunya yang sudah ia tinggalkan sejak lama. Ia ingat sempat marah dan membanting pintu di depan ibunya. Kaya ingat bahwa ia sendiri belum meminta “maaf” pada ibunya. “Aku ingin bintang jatuh ini membawaku pulang ke bumi.”
Awalnya anak-anak bersayap bersedih mendengar Kaya akan pulang ke bumi. “Aku senang berteman dengan kalian, tapi rumahku di bumi. Aku harus kembali ke bumi,” ujar Kaya. Setelah mengucapkan perpisahan dan bermain dengan anak-anak bersayap untuk terakhir kalinya, Kaya diantarkan Tuan Payung kembali ke bumi dengan mengendarai bintang jatuh.

Kaya kemudian sampai di jalan tempat dia pertama kali bertemu Tuan Payung. Tuan Payung kemudian pergi kembali ke Negeri Pelangi bersama bintang jatuh. “Terima kasih Tuan Payung! Sampai jumpa,” kata Kaya sambil melambaikan tangan.
Di jalan itu, hujan tidak lagi turun. Kaya tidak lagi kebasahan. Ia berlari kembali menuju rumahnya. Kaya memanggil ibunya. “Mama, aku sudah pergi terlalu lama, ya?” tanya Kaya. “Kamu baru pergi tadi, Kaya. Dan kamu lupa bawa payungmu,” kata ibunya sambil menyerahkan sebuah payung hijau pada Kaya.
“Maafkan aku, Mama,” ujar Kaya sambil memeluk ibunya. “Aku akan pergi ke sekolah sesuai dengan perintah Mama. Dan aku tidak perlu payung hijau ini lagi, Ma. Hujan sudah berhenti,” kata Kaya sambil tersenyum.

Sejak saat itu, Kaya kembali menjalani hidup bersama ibunya, meski tidak selalu bahagia.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ngepost Cerpen2 Lama Gara2 Vivi XD

Tak Bisa Lepas
Oleh: Rima Muryantina Juara 1 Lomba Cerpen kaWanku 2005

Pak Jaya Suprana yang terhormat,

Dengan ini saya akan membalas pertanyaan-pertanyaan Bapak tentang benda yang tak bisa saya lepaskan dari punggung saya selama 40 tahun. Semoga dengan penjelasan berikut ini, Bapak bersedia memasukkan pengalaman hidup saya sebagai salah satu pencetak rekor di MURI.


Saya seorang wanita berusia 56 tahun. Nama saya Chandrika. Nama yang agak aneh bukan, Pak? Itu adalah nama Sri Langka. Ibu saya keturunan Sri Langka. Meskipun sampai saya setua ini, saya tak pernah mengerti apa arti nama Chandrika. Saya juga tak tahu sedikit pun tentang bahasa Sinhala, bahasa resmi negeri kecil itu.


Sejak kecil, kehidupan keluarga saya baik-baik saja. Kadang-kadang memang ada hambatan seperti sedikit pertengkaran dengan adik-adik saya. Atau mungkin omelan dari suara nyaring nenek saya yang kerap kali merusak kinerja gendang telinga saya. Atau bisa jadi beberapa nilai-nilai jelek yang saya dapat di sekolah, itu pun hanya satu atau dua kali saja. Selebihnya, saya dulu adalah salah satu manusia paling beruntung di dunia. Dan saya sangat bersyukur karenanya.


Orang tua saya, sejak dulu adalah orang tua yang tegas dan disiplin. Tapi mereka tidak kasar. Tidak marah bila tidak alasan. Dan saya, tentu saja, berusaha sebisa mungkin untuk tidak menimbulkan satu alasan pun yang bisa membuat mereka marah terhadap saya dan adik-adik saya. Orang tua saya juga berkecukupan. Mungkin tidak sekaya pejabat-pejabat tinggi negara, ya tapi paling tidak kami termaksud golongan menengah ke atas. Dan meskipun hidup berkecukupan, orang tua saya tetap peduli pada orang-orang lain yang tidak seberuntung kami. Itulah yang paling saya syukuri selama hidup saya. Memiliki orang tua yang tidak ragu mengulurkan tangan pada orang lain.



Prestasi belajar saya sejak kecil normal saja. Memang tidak pernah mendapat peringkat pertama, tetapi Alhamdulillah, selalu mendapat peringkat 10 besar. Di sekolah saya memiliki banyak teman. Teman-teman yang saya percaya. Teman-teman yang selalu membawa kebahagiaan bagi saya. Teman-teman yang selalu menjaga perasaan saya.



Saya juga memiliki beberapa keahlian. Seperti main biola dan modelling. Memang kemampuan bermain biola saya masih kalah dengan Idris Sardi, kemampuan modelling saya juga tidak sehebat Ratih Sanggarwati. Tapi setidaknya saya memiliki sedikit bakat dalam kedua bidang itu.



Beruntung…. Sangat beruntung. Itulah saya semasa belia. Kadang terlintas juga di kepala saya, apakah mungkin ada seseorang atau mungkin banyak orang yang tidak suka dengan keberuntungan yang saya dapat ini? Kadang memang terlintas pertanyaan-pertanyaan “GR” seperti itu. Ya, tapi hal itu tidak apa. Asalkan hal-hal yang saya lakukan tidak menyakiti teman-teman dan keluarga saya. Asalkan begitu, saya akan merasa baik-baik saja.



Suatu hari, di saat saya masih berusia 16 tahun, saya menyukai seorang laki-laki. Laki-laki yang populer dan sangat tampan. Setidaknya ya… untuk ukuran tahun 60-an. Sebut saja namanya George. Karena dia setampan George Harrison, menurut saya. Dia juga jago main gitar seperti George Harrison. Itulah sebabnya saya makin menyukainya. Karena dia mencintai musik, sama seperti saya.



Setelah beberapa bulan saling mengenal, akhirnya George meminta saya menjadi kekasihnya. Saat itu saya tidak langsung menerima, karena saya tahu banyak teman-teman saya yang mengagumi George. Seperti yang saya bilang tadi, saya paling takut menyakiti perasaan teman-teman saya. Saya tak mau hubungan saya dengan teman-teman saya lebur begitu saja hanya karena masalah laki-laki.



Saat saya tanyakan hal ini pada teman-teman saya, Alhamdulillah, reaksi mereka sangat positif. Meski ada juga yang bermuka tak semangat dalam menanggapinya, tapi setidaknya tidak ada dari teman-teman saya berwajah kesal mendengar kabar ini. Mereka malah mendukung saya.



“Aduh, Chan! Terima aja! Tunggu apa lagi?”

“Chandrika, sayang! Betapa beruntungnya kamu! Semoga awet ya kalian berdua!”

“Chandrika payah banget, sih? Kenapa nggak langsung diterima?”

“Aduuh… Kalian tuh pasangan yang “perfect” banget, Chan!”

“Kalau George sama Chandrika, aku ikhlas, deh!”



Sejenak, hati saya lega. Saya terima pernyataan cinta dari George. Dalam beberapa hari, hubungan kami pun terasa begitu indah. Dan selama itu, keadaan berjalan sangat lancar. Semuanya baik-baik saja. Sekali lagi, saya merasa seperti manusia yang paling beruntung di dunia.



Tapi di tengah-tengah keadaan bahagia itu, terjadi hal yang mengejutkan yang mengubah kehidupan saya 180 derajat. Bagaikan benda yang dilempar ke atas, kebahagiaan saya yang begitu cepat meningkat ke atas akhirnya mencapai titik puncak secara mendadak. Titik puncak yang memilki kecepatan sama dengan nol itu pun sekejap berubah menjadi titik balik. Dari titik balik itu saya terhempas dengan sangat cepatnya ke bawah. Saya jatuh bebas. Sampai tanah.



Pada saat itu, saya dan George sedang berjalan-jalan di halaman sekolah. Kami berjalan di tengah-tengah banyak orang. Namun tak ada yang mengganggu kami dan tak ada juga yang merasa terganggu dengan keberadaan kami. Pada saat itulah titik balik itu muncul. Sebuah tangan, entah tangan siapa, memegang pisau tajam menikam saya dari belakang. Saya pun jatuh tersungkur. Darah mengalir dari punggung saya. George ketakutan melihat saya.



Saya menoleh ke belakang. Yang saya lihat adalah wajah teman-teman saya. Wajah teman-teman yang saya percayai. Mereka melihat saya dengan pandangan yang sama. Pandangan yang bercampur antara rasa bersalah dan ketakutan.



Dalam keadaan sekarat itu saya bertanya pada mereka, “Siapa…? Siapa yang melakukannya?” Mereka menggeleng. Tak satu pun mengaku. Dengan penuh ketakutan semua teman-teman saya itu berkata berkali-kali, “Bukan aku!”



Berkali-kali mereka katakan hal itu. Tapi tak ada satu pun yang menolong saya. Sampai akhirnya saya kehilangan kesadaran. Dan ketika sadar, saya sudah berada di rumah sakit. Kata orang tua saya, yang menolong saya saat itu adalah guru-guru saya.



Saya tak percaya bahwa saya masih bisa hidup saat itu. Dan saya sangat bersyukur karenanya. Tadinya saya pikir pisau itu sudah berhasil dicabut oleh dokter. Saya pikir karena itulah saya masih bisa selamat. Tapi nyatanya, pisau itu belum bisa dicabut. Bahkan dengan operasi sekalipun. Bahkan di saat darah saya sudah tidak mengalir lagi, pisau itu tetap saja tak bisa dicabut. Saya tidak merasa sakit lagi, tapi pisau itu tetap saja tak bisa lepas dari punggung saya.



Sungguh aneh, memang. Pisau ini tak menyebabkan kerusakan tertentu pada organ tubuh saya. Dia terus menancap. Tapi sejak darah itu berhenti, dan rasa sakit itu berhenti, pisau itu tidak pernah lagi melukai apapun dalam tubuh saya. Paling-paling hanya rasa nyeri sedikit dan kenampakan tubuh saya jadi tidak normal.



Sejak itu, pisau aneh yang tak bisa lepas dari punggung saya itu selalu menemani aktivitas kehidupan saya. Saya tidak bisa lagi memakai baju tipis. Sebab baju itu pasti akan bolong di bagian tempat pisau itu menancap. Dan kalau pun baju yang saya pakai tebal, saya malah jadi terlihat seperti Hunchback of The Notre Dame.



Gara-gara pisau itu, saya jadi tidak bisa berdesakan di dalam bus yang padat. Kalau duduk, saya tak bisa bersandar lagi. Kalau tidur, saya harus tengkurap. Tentu saja, sebab ukuran punggung saya jadi lebih besar dari biasanya. Oh, ya kecacatan saya ini juga menimbulkan cercaan dan makian dari beberapa orang. Saya jadi tidak bisa ikut modelling lagi. Tak ada lagi tawaran untuk menjadi model. Sekali-kalinya ada tawaran, malah tawaran untuk main di film horor. Jelas saya tolak. Itu kan pelecehan.



Beraneka ragam cara saya lakukan untuk melepaskan cengkraman pisau ajaib itu dari punggung saya. Mulai dari operasi, sampai cara manual. Semuanya gagal. Saya putus asa. Penderitaan dengan cacat di tubuh ini sudah terlalu lama. Bila tidak melampiaskannya pada seseorang, rasanya saya bisa gila. Akhirnya, saya putuskan untuk mencari tahu siapa yang bertanggung jawab atas insiden yang saya alami ini.



Waktu itu, ada beberapa nama yang menjadi “tersangka” dalam penyelidikan saya. Sebagian besar dari mereka adalah teman-teman saya. Awalnya saya mendatangi mereka dengan berani. Menunjukkan bukti-bukti yang kuat yang menyebabkan mereka layak menjadi tersangka. Tapi apa yang terjadi, Pak Jaya? Saya malah jadi tidak tega. Pembelaan diri mereka terdengar begitu tulus. Begitu halus.



“Chan, nggak mungkin lah kita berbuat itu ke kamu. Kita semua sayang sama kamu… Kita ngerti penderitaan kamu. Tapi sudahlah, Chan. Mungkin ini memang nasib kamu. Untuk apa menuduh kami sebagai pelakunya sedangkan kami ada di sini untuk meringankan penderitaan kamu…”



Hhh… Siapa yang tidak luluh dengan kata-kata seperti itu? Sesuai dengan keinginan mereka, saya pun berhenti menuduh. Namun kenyataannya, tak lama setelah saya percaya lagi pada teman-teman yang saya cintai itu, satu per satu dari mereka malah pergi menjauhi saya. Pergi meninggalkan saya. Di masa-masa terberat dalam hidup saya.



Waktu terus berlalu. Hingga akhirnya saya menyadari bahwa teman-teman saya telah lama melupakan saya, hidup bahagia dengan teman-teman baru mereka, dan pekerjaan baru mereka. Menjadi model, menjadi sekretaris, menjadi aktris, menjadi penyanyi. Sementara saya sendiri, hanya menjadi musisi latar dalam album-album mereka. Tak pernah tampil di atas panggung. A backstage girl.



Saya juga baru menyadari bahwa si tampan duplikat George Harrison itu sudah menikah dan memiliki 5 orang anak. Dia tak peduli sedikit pun tentang saya. Ya, saya pun juga sudah tak begitu peduli lagi padanya.



Saya sendiri, di sini. Menua seorang diri. Ditemani oleh pisau di punggung saya yang nampaknya juga sudah berkarat, tapi tak sedikit pun merusak organ tubuh saya. Menjadi seorang musisi latar yang hidup sederhana di rumah yang sederhana. Hanya keluarga saya saja… Dan orang-orang baik saja yang bisa menerima saya apa adanya. Tapi selama orang-orang baik berhati tulus itu masih ada di dunia ini… Saya akan baik-baik saja. Dan sekarang pun, saya masih merasa bahwa saya adalah orang paling beruntung di dunia.



Saya sudah tak memiliki keinginan untuk melepaskan pisau ini, ataupun keinginan untuk mengungkap pelaku yang menyebabkan saya jadi begini. Biarkan saja “Si Pisau Ajaib” tetap seperti ini. Supaya saya selalu mawas diri agar tak tertusuk lagi untuk yang kedua kalinya.



Tapi untuk yang terakhir kali, Pak Jaya… Saya mohon tolong catat kisah hidup saya ini dalam Museum Rekor Indonesia. Biar tak ada lagi orang yang tertusuk dari belakang. Seperti saya….

Hormat saya,
Chandrika

Jakarta, 1 Juli 2005

Pengaduan Panca Indera

Oleh: Rima Muryantina

Dimuat di majalah GADIS (21 April -1 Mei 2005)

“Katakanlah padaku, wahai Mata-ku. Mengapa kau terpejam?” tanya Putra terhadap matanya sendiri.

“Aku letih melihat dan menangis,” jawab si Mata.

“Apa yang kau lihat?” tanya Putra lagi.

“Yang kulihat adalah kekerasan. Aku letih melihat orang memukul seenaknya. Aku letih melihat orang mau saja dipukul seenaknya. Aku letih melihat orang saling memukul….”

“Lantas apa yang kau tangisi?”

“Yang kutangisi adalah diriku yang tak bisa berbuat apa-apa untuk menghapus tontonan-tontonan kekerasan itu dari pandanganku….”

“Siapa yang mempertontonkan itu padamu?”

“Namanya Tradisi.”

“Siapakah ia?”

“Tradisi itu adalah suatu makhluk kecil. Tapi ia kuat dan bisa memimpin, mengayomi, dan merekrut banyak orang untuk melakukan hal-hal yang ia inginkan.”

“Jadi kau memilih untuk terpejam?” tanya Putra lagi. Si Mata tak menjawab. Putra memegang matanya penuh pengertian dan rasa iba. “Wahai Mata-ku, terpejamlah. Sungguh hanya padaku kau menceritakan penderitaanmu. Maka kuizinkan kau terpejam.”

Tiba-tiba salah satu panca indera lain di tubuh Putra, Telinga menjerit padanya. “Hai, Putra! Jika kau biarkan Si Mata terpejam, maka izinkanlah aku tertutup juga. Mata bisa memejam sendiri. Aku tak dapat menutup lubangku sendiri!”

Putra bertanya pada Telinga, “Apa yang menyebabkanmu ingin sekali tertutup?”

“Aku letih mendengar hingar bingar. Gendangku terasa sakit sekali. Congek yang ada di sisiku pun tak dapat menyembuhkan rasa sakit itu!” adu Telinga penuh emosi.

“Hingar bingar apa itu?” Putra bertanya lagi.

“Hingar bingar makian. Hingar bingar cacian. Dipenuhi dengan kata-kata kasar serta ancaman. Suara orang dipukul, suara orang meronta. Suara barang dipecahkan. Suara barang dijatuhkan. Suara robekan baju dan jaket. Semua suara itu membuatku menderita!! Jangan kau pikir Si Mata saja yang menderita! Aku juga menderita!”

“Siapa yang memperdengarkan suara-suara itu padamu?” tanya Putra penasaran.

“Tradisi,” jawab Telinga.

Putra terdiam sejenak. Kemudian ia mengambil walkman dari tasnya. Diambilnya kaset album kompilasi Get Free Volume 2 yang baru saja ia beli. Dimasukkannya kaset itu ke dalam walkman. Ditekannya tanda play di walkman tersebut. Dan diletakannya earphone yang terhubung dengan walkman tersebut di telinganya. “Istirahatlah, wahai Telinga-ku. Aku tahu lagu-lagu ini adalah lagu-lagu kesukaanmu. Maka nikmatilah sepuasmu. Dan kau tak perlu lagi mendengar hingar bingar,” ujar Putra terhadap Si Telinga.

Kemudian Putra termenung sejenak. Menemani Si Mata yang terpejam dan Si Telinga yang sedang mendengarkan nyanyi-nyanyian. Dalam hati Putra mempertanyakan hal-hal yang tak akan terjawab. Siapakah Tradisi itu sebenarnya? Mengapa ia begitu kuat? Sekuat itukah ia sehingga ia bisa menyakiti sekaligus kedua mata dan kedua telinganya? Apakah Si Mata dan Si Telinga sudah melakukan perlawanan pada Tradisi yang merusak ketenangan mereka?

Diam-diam Si Lidah mencuri dengar tanda tanya yang ada di hati Putra. “Hai, Putra! Mana bisa Si Mata dan Si Telinga melawan! Itu tugasku untuk melawan!” seru Si Lidah tiba-tiba. Putra terkejut dengan ucapan Si Lidah.

“Lalu? Sudahkah kau melawannya?” tanya Putra lagi.

“Sudah!” jawab Si Lidah lantang.

“Lalu bagaimana?” tanya Putra lagi.

“Aku sudah berusaha meneriakkan semua ketidaksukaanku pada segala hal yang ditonton oleh Si Mata. Pada segala hal yang didengar oleh Si Telinga. Aku ucapkan semua hal yang menurutku dapat mengusir Si Tradisi. Tapi ia tak kunjung pergi. Ia semakin menjadi. Dan karena ia bisa mengayomi, memimpin, dan merekrut banyak lidah-lidah lain, maka aku kalah bertengkar dengan lidah-lidah tersebut….”

“Akhirnya?”

“Akhirnya aku letih bicara. Maka aku ingin diam,” pinta Si Lidah.

Putra kemudian menutup mulutnya seraya menggigit lidahnya sejenak. “Diamlah, Lidah-ku. Sesungguhnya hanya aku yang mengerti perjuanganmu. Maka biarlah kau beristirahat. Jika kau masih sanggup, senandungkanlah lagu-lagu yang didengar oleh Telinga. Itu juga dapat membantu Mata untuk tertidur pulas….”

Maka Si Lidah pun bersenandung kecil dan pelan. Menyanyikan lagu-lagu yang didengar Si Telinga. Me-ninabobo-kan Si Mata. Putra pun terhanyut tenang bersama ketiga alat inderanya. Tapi kemudian ada suara panggilan yang mengusik ketenangannya.

“Putra!” suara itu memanggil. Putra terkejut. Ia bertanya-tanya. Darimana datangnya suara itu. “Putra, ini aku! Tolong aku!”

“Siapa?” tanya Putra.

“Aku Kulit-mu!”

“Kulit? Kaukah itu? Ada apa?” Putra bertanya dengan nada khawatir. Mencemaskan permintaan tolong yang tadi diajukan Si Kulit. “Apakah kau juga dilukai oleh Tradisi?” tanyanya pada Si Kulit.

“Putra. Ternyata ucapan Si Lidah pada Tradisi dan para pengikutnya membuatku terluka. Lihat! Aku berdarah!” Si Kulit menunjukkan luka-luka yang menggoresnya. Darah banyak keluar dari ujung pori-porinya.

“Tradisi tak puas dengan hanya menyiksa Si Mata, Si Telinga, dan Si Lidah. Tradisi tak suka dilawan. Ia benci perlawanan. Makanya ia menyuruh para pengikutnya untuk memukulku, menusukku, menggoresku! Obati aku, Putra! Sesungguhnya di antara kelima alat inderamu, akulah yang paling menderita!”

Si Mata tiba-tiba mengucurkan air mata melihat luka-luka Si Kulit. “Tolonglah ia, Putra. Aku sudah tak mau menangis lagi….” ujar Si Mata pada Putra. Tiba-tiba Si Lidah yang bersenandung pun akhirnya angkat bicara. “Maafkan aku, Kulit. Ini semua salahku. Seandainya saja aku tak bicara…. Ah, Putra! Pokoknya tolonglah Kulit. Aku kan sudah letih bicara,” ujarnya.

“Ya, Putra. Tolonglah Kulit. Ia sudah terlalu menderita. Aku pun mendengar sendiri suara goresan yang melukai pori-porinya. Suara pukulan yang menghantamnya. Lagu-lagu yang menenangkan rasa ini tak akan dapat menenangkanku bila aku masih mengingat suara-suara pukulan dan goresan yang kudengar,” Telinga juga memohon kepada Putra.

Putra pun berjalan ke arah ruang kesehatan. Di sana, ia mengambil beberapa obat dan perban yang bisa menahan darah yang mengalir di atas Si Kulit. Ia mengobati Si Kulit. Setelah itu direbahkannya tubuhnya ke tempat tidur. Si Kulit beristirahat terbalut perban. Si Mata terpejam. Si Telinga mendengarkan lagu-lagu favoritnya. Si Lidah menyenandungkan lagu-lagu tersebut dengan tenang.



Semua terasa damai. Untuk beberapa lama, Putra tak mendengarkan suara keluhan dari mana pun lagi. Setelah dipikir-pikir, hanya Si Hidung yang belum berkeluh kesah padanya. Putra kemudian iseng bertanya pada Si Hidung, “Hei, Hidung! Kau diam saja dari tadi. Apa kau baik-baik saja?”



Si Hidung tertawa kecil. “Ha ha ha…. Aku Si Hidung yang paling beruntung! Yang kucium hanya bau kentut!” Putra ikut tertawa mendengar pengaduan Si Hidung. Setidaknya ia bersyukur. Masih ada satu alat inderanya yang tidak dibuat menderita oleh Tradisi.



Betapa tenangnya Putra bersama panca inderanya. Si Mata terpejam. Si Telinga mendengar lagu. Si Lidah bersenandung. Si Kulit beristirahat terbalut perban. Dan Si Hidung mencium bau…. Yah meskipun bau tak sedap, tapi setidaknya tidak membuatnya terlalu tersiksa.



Tiba-tiba, di tengah kedamaian itu, Si Hidung menjerit. “Aduh!” seru Si Hidung. Sekejap Si Mata terbuka. Si Telinga mendengar. Si Kulit merasa sakit lagi. Dan Si Lidah bertanya, “Ada apa Hidung?”



Putra sendiri dalam hatinya juga bertanya, “Ada apa Hidung? Apa kau mencium sesuatu yang tidak kau sukai?”



“Aku mencium darah! Iiiih! Aku tak suka bau darah! Jijik!” jerit Si Hidung. “Putra, tolong sumbat lubangku! Lebih baik aku disumbat dengan 1 liter virus influensa daripada harus mencium bau darah!”



“Pasti ulah Tradisi!” bentak Si Lidah.

“Iih…. Tradisi lagi, Tradisi lagi!!” Si Mata mulai menangis.

“Aku tak mau dengar apapun soal tradisi!!” Si Telinga menjerit.

“Tidak! Kalau kita melawan, aku akan terluka lagi!” seru Si Kulit dari balik balutan perban.



Putra pun menjadi geram. Sudah cukup baginya semua pengaduan dari panca inderanya. Makhluk yang bernama Tradisi ini sudah tak dapat diberikan tenggang rasa lagi. Sudah tak dapat diberikan maaf lagi. “Kita harus melawan!” gertak Putra tiba-tiba.



Seluruh panca indera milik Putra terkejut. Mereka memekik nyaris bersamaan, “TIDAAAK!!!!!” seru Si Mata.



“JANGAAAN!!!!” seru Si Telinga.

“Putra, kau tega sekali pada kami!!!” seru Si Lidah.

“Putra, kami tak mau terluka lagi!!” seru Si Kulit.

“Putra, jika kau melawan Tradisi, berarti kau membunuh kami! Kau membunuh dirimu sendiri!!” seru Si Hidung.



“DIAAAMMM!!!” bentak Putra. “Diam kalian semua!” Semua panca indera milik Putra pun terdiam. Mereka menghentikan semua pengaduan mereka pada Putra. Putra menarik nafas. Mencoba menjelaskan pada kelima panca inderanya.



“Bukan tujuanku untuk membunuh kita. Aku bukan melawan Tradisi untuk membunuh kita! Aku membunuh kita untuk melawan Tradisi!” serunya dengan lantang. “Tujuanku adalah melawan Tradisi! Bukan membunuh kita!”



Sejenak hening. Kemudian Putra memberi perintah pada Si Hidung. “Hidung, tuntun aku ke arah bau darah tersebut! Pasti Tradisi ada di sana!” Si Hidung menurut. Ia pun menuntun Putra menemukan Tradisi.

*******

Akhirnya Putra melihat makhluk kecil bernama Tradisi itu. Makhluk yang selama ini telah mengganggu ketenangannya dan kelima panca inderanya. Makhluk menyeramkan yang bisa mempengaruhinya kapan saja itu bergerak bersama ratusan pengikutnya yang membabi buta. Mereka saling memukul, saling menonjok, saling menggores. Menebarkan bau darah yang tercium oleh Si Hidung. Mempertontonkan adegan kekerasan pada Si Mata. Memperdengarkan suara-suara makian, cacian, pekikan, rintihan, dan rontaan pada Si Telinga.



“Kumohon, Lidah. Bantulah aku, untuk terakhir kalinya. Lantanglah! Lantanglah berbicara!” perintah Putra pada Lidah-nya.



Si Lidah pun menurut. Meskipun ia tahu ini adalah untuk yang terakhir kalinya ia akan lantang berbicara. “Wahai, Tradisi!” panggilnya menantang makhluk kecil yang mengerikan itu. “Kau mungkin telah sukses mengayomi, memimpin, dan merekrut banyak orang untuk melakukan apapun yang kau inginkan!”



Tradisi dan para pengikutnya pun menoleh ke arah Putra dan panca inderanya. “Tapi ingatlah satu hal! Kau tak akan pernah bisa mengayomi, memimpin, dan merekrut aku untuk melakukan hal-hal yang kau inginkan!” Putra dan Lidah-nya kembali menantang Si Tradisi.



Tradisi terlihat murka. Kemurkaannya itu ia salurkan kepada para pengikutnya. Ia perintahkan pada para pengikutnya untuk menyerang Putra dan kelima panca inderanya. Salah seorang pengikutnya yang membawa cutter di tangannya berusaha melukai Si Kulit. Tapi kemudian Putra memegang tangan Si Pengikut Tradisi tersebut.



“Kau tak perlu sungkan untuk melukaiku!” bentak Putra padanya. Kemudian Putra mengambil cutter dari Si Pengikut Tradisi dan kemudian menggunakan cutter itu untuk menusuk Si Mata dan Si Hidung, memotong Si Telinga dan Si Lidah. Kemudian Putra mengiris seluruh bagian kulit arinya. Tradisi dan para pengikutnya sangat terkejut.



Darah Putra menetes di mana-mana. Mengalir membanjiri seluruh sekolah. Membasahi kaki-kaki para pengikut Tradisi. Namun Putra hanya tersenyum. Dan dengan sedikit nafas yang masih tersisa, ia menertawakan Tradisi dan para pengikutnya. “Dengan begini, kalian tak akan bisa melukai kami lagi!” desisnya dengan lirih.



Jakarta, 30 September 2004

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

10 Sastrawan Favorit



Sambil mendengarkan takbiran Idul Adha, saya akan menuliskan 10 sastrawan favorit saya *gak nyambung*

Maafkan eike, saudara2 sesama Muslim. Saya tidak punya ide mau menuliskan apa soal Idul Adha. Yang jelas, Selamat Idul Adha aja deh bagi yang merayakan. Semoga kita bisa memaknai Idul Adha dengan baik. Selamat solat, selamat potong kambing, selamat sentosa bagi saudara2ku yg sedang naik haji. Semoga sukses ibadah hajinya. :D

Oke, kembali ke topik awal. Saya akan menjelaskan list 10 sastrawan satu2. Harap baca baik2. XD

10 Sastrawan Favorit Midorima

1. Edgar Allan Poe

Oke, dia di peringkat pertama. Saya baru saja beli biografinya. Membaca biografinya membuat saya mengerti mengapa saya sangat mengagumi karya-karyanya. Dia jenius dalam bidang puisi. Dia luar biasa dalam menulis cerpen. Tapi yang membuat saya benar-benar tergila-gila pada karya-karyanya adalah karena tema yang ia ambil adalah tema-tema yang suram dan tragis. Melalui karya-karyanya saya sangat merasakan penderitaan dan segala keputusasaan dalam kehidupan. Karakter-karakternya adalah orang-orang yang bermasalah untuk mengenali dunia ini. Jangankan utk mengenali dunia ini, sering kali karakter-karakter dalam cerpen Edgar Allan Poe bermasalah dalam mengenali dirinya sendiri. Tapi Poe juga tidak membuat seolah-olah para karakter yang bermasalah itu benar. Mereka adalah karakter-karakter yg memiliki kekurangan, tapi di balik kekurangan mereka tersimpan alasan-alasan tertentu yang membuat kita lebih mengenal dunia. Inilah yang membuat saya merasakan keterikatan antara diri saya dengan karya-karya Poe. Poe meneriakkan suara hati saya. Oh ya, satu lagi: Dia membuat puisi berjudul "Al-A'Raaf" (sebuah surat dalam Al-Qur'an yg jg menjadi surat favorit saya). Tapi dia tidak menerjemahkannya menjadi "The Highest Place" dan tetap menggunakan istilah "Al-A'Raaf." Menurut saya dia cerdas, karena memang kata Al-A'Raaf tidak memiliki padanan yang tepat di bahasa lain untuk menjelaskan makna yg sama. Dan sejak menyadari hal ini, saya jadi semakin sadar mengapa Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab. Thanks to Edgar Allan Poe, I can understand my religion better(padahal dia bukan org Islam loh XD).

2. Leo Tolstoy

Penulis lain yang juga sering mengangkat tema-tema suram. Bedanya, karakter-karakter Tolstoy terkesan lebih manusiawi dan sederhana. Karakter-karakternya umumnya hanya orang-orang biasa yang terjebak dalam masalah hidup manusia yang biasa namun menjerumuskan, tapi akhirnya dapat menemui jalan keluar atas masalah tersebut. Membaca karya Tolstoy seolah mendapatkan "pencerahan" bahwa di balik kesulitan pasti ada kemudahan. Kecuali cerpen "Seberapa Luaskah Tanah yang Diperlukan Seseorang" bagiku semua cerpen Tolstoy diakhiri dengan happy ending. Nah, ini dia. Kelihatannya cerpen2 Tolstoy itu tidak berakhir dengan Happy Ending karena selalu diakhiri dengan kematian. Padahal sebenarnya tidak begitu. Aksenof dalam "Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu" memang meninggal, tetapi ia meninggal dengan keikhlasan atas penderitaan yang telah ia alami akibat fitnah yang dituduhkan padanya. Alyosha juga meninggal, tapi ikhlas karena kepergiannya tidak merepotkan orang yang ia cintai. Ivan Ilyich akhirnya meninggal tapi justru ia menginginkan kematian itu karena ingin lepas dari penderitaan dunia. Jadi, karya2 Tolstoy-lah yang membuat saya mempertanyakan kembali konsep dari "happy ending." Dan karena itulah bagiku dia sangat hebat. XD

3. Sapardi Djoko Damono

Kenape harus die? (logat Malaysia). Kenapa? Ya, karena bagiku beliau adalah sastrawan terbaik Indonesia. Mungkin beberapa orang akan berpikir saya berlebihan atau saya mengaguminya hanya karena dia mantan Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Tapi bukan itu sebenarnya yang membuat saya terkagum-kagum padanya. Saya selalu menggemari puisi-puisinya. Membaca puisinya membuat saya menyadari keindahan bahasa Indonesia. Bahwa kata-kata berlebihan tidak terkesan lebay bila diujarkan dengan bahasa Indonesia yang tepat guna. Dan semua yang sederhana dapat menjadi tema bila disuguhkan dalam bahasa yang luar biasa. TAPI, saya semakin mengagumi beliau ketika membaca cerpen-cerpennya. Sebelum membaca cerpen Pak Sapardi, saya selalu merasa cerpen-cerpen yang panjang dan padat detail adalah yang terbaik. Namun ketika saya membaca cerpen-cerpen beliau, saya terkejut. Ternyata sebuah karya dengan tema sederhana, tanpa detail berlebihan, dengan jumlah kata yang tidak terlalu banyak dapat disampaikan dengan indah. Cerpen Pak Sapardi yang benar-benar membuat saya terpukau adalah Testamen. Cerpen ini tidak sampai 1 halaman, akan tetapi mengandung berbagai makna kehidupan. Salah satu cerpen terbaik bagi saya. Dan ini membuat saya mengakui kejeniusan Pak Sapardi.

4. Seno Gumira Ajidarma

Menurut saya dia adalah penulis Indonesia kedua yang sangat kusukai. Saat pertama kali membaca kumpulan cerpen Seno yang berjudul "Saksi Mata" saya benar-benar merasakan teknik penceritaan yang berbeda. Seno dapat mengisahkan cerita-cerita tragis di Timor Timur tanpa harus mengeksploitasi kesadisan (meskipun sebenarnya beberapa cerita temanya sadis sekali). Akan tetapi, Seno dapat mengemasnya dengan halus sehingga realitas yang keji itu tidak terasa terlalu keji, namun kita tetap dapat mengerti kekejiannya dan informasi yang ingin ia sampaikan mengenai keadaan Timor Timur juga tersampaikan. Seperti halnya Edgar Allan Poe, Seno tidak membuat seolah-olah karakter-karakternya itu benar, tetapi ia sangat berhasil membuat kita memahami perasaan karakter-karakter tersebut. Kumpulan cerpen "Saksi Mata" memang kumpulan cerita terbaik Seno bagi saya. Namun saya juga terkagum-kagum dengan "Pelajaran Mengarang" dan aneka cerita Sukab. Karena itu tadi, Seno orang yang sangat berpengalaman dan telah melihat banyak penderitaan manusia di muka bumi ini (saya rasa), tapi dia berhasil menyampaikan penderitaan tersebut tanpa harus mengeksploitasinya.

5. Roald Dahl

Beliau ini adalah pengarang cerita anak-anak favorit saya. Cara dia menceritakan cerita jenaka, seperti halnya anak-anak. Akan tetapi ia menunjukkan sisi lain dari dunia anak-anak. Ia mendobrak dunia cerita anak bahwa cerita anak tidak harus melulu cerita tentang hal-hal yang bahagia saja. Tentu saja Hans Christian Andersen juga memiliki beberapa cerita yang tidak berakhir bahagia, tapi saya lebih menyukai cerita Roald Dahl ketimbang cerita HCA karena cerita-cerita Roald Dahl tidak terkesan menggurui. Bahkan cerita tersebut seperti menunjukkan bahwa ada hal-hal yang diketahui anak-anak yang dianggap orang dewasa sebagai omong kosong dan orang dewasa menggurui anak-anak untuk tidak mempercayai hal tersebut padahal sebenarnya hal tersebut benar-benar ada. Dalam kenyataannya, pesan moral mengenai benar dan salah memang tidak dapat ditarik dengan mudah. Dan Roald Dahl menunjukkannya di karya-karyanya. Pesan moral dari ceritanya tidak dapat ditarik dengan mudah. Kalau menjadi tikus selamanya terkesan seperti ending yang menyesatkan untuk anak-anak, sebenarnya dari cerita tersebut kita dapat belajar untuk menerima diri kita apa adanya bukan?

6. Jane Austen

Saya biasanya membaca Jane Austen bila saya ingin tenggelam dalam kisah-kisah romantis ala gadis-gadis remaja. Lupakan William Shakespeare. Dia adalah pria. Dan setiap kali dia mengisahkan perasaan cinta seorang wanita, ia terkesan lebay dan berlebihan. Padahal, sebenarnya wanita pun kalau mencintai seseorang tidak sebegitu lebaynya. Hal inilah yang tidak diketahui Shakespeare, tetapi diketahui Jane sebagai seorang wanita. Pada kenyataannya, wanita pun memiliki ketakutan-ketakutan tersendiri dalam mencintai orang lain yang kadang membuat ia sulit untuk menunjukkan rasa cintanya itu. Memang akhir kisah Jane Austen biasanya berakhir happy ending (tidak seperti kisah cintanya di dunia nyata). Tetapi, hei, siapa yang mau terus-terusan tenggelam dalam dunia cerita para lelaki yang terus menunjukkan realitas dunia yang menyeramkan seperti pujangga-pujangga lelaki yang saya tuliskan sebelumnya? Kadang-kadang saya dan Jane Austen pun membutuhkan mimpi-mimpi dan impian seperti wanita lainnya. Supaya setidaknya hidup ini tetap memiliki harapan, meskipun belum tentu harapan itu kesampaian.

7. Samuel Beckett

Saya ini tidak terlalu suka drama atau teater. Namun begitu saya membaca "Waiting for Godot" dan "Happy Days" saya baru menyadari bahwa drama adalah bentuk karya sastra yang memiliki keindahan tersendiri. Seperti yang kita tahu, dari bentuknya saja karya Beckett memang sangat berbeda dengan drama lain. Karakter sangat minimalis, hanya dua orang tokoh utama dan mungkin beberapa tokoh lain yang datang dan pergi begitu saja. Drama dipenuhi dengan dialog tentang topik yang sama berulang-ulang. Gerakan tubuh pun tidak terlalu sering. Tapi justru itu yang kusuka dari karya Beckett. Bukankah hidup (khususnya hidup zaman sekarang) itu memang monoton dan berulang-ulang saja. Tapi dalam keadaan seperti itu pun, para karakter itu tetap menjalani peran mereka dengan baik. Membaca karya Beckett, membuat saya jadi lebih mensyukuri kehidupan yang terkesan kosong ini (ibaratnya, "syukur2 masih hidup. kenapa sih manusia itu terlalu banyak menuntut?"). Oh ya, sekedar tambahan saja. Waktu pertunjukkan Waiting for Godot ini dipentaskan di depan para napi di sebuah penjara, awalnya para napi itu memang terkesan bosan. Tapi setelah pertunjukkannya selesai, para napi itu menangis. Itulah hebatnya Samuel Beckett. Berkat dia, saya jadi sangat ingin menjadi penulis dengan aliran absurdisme. :)

8. Lemony Snicket

Tertawalah, saya bahkan memasukkan penulis "nggak jelas" ini sebagai sastrawan favorit saya. Memang penulis ini tidak pernah menunjukkan identitasnya. Dan karyanya juga hanya 13 buku A Series of Unfortunate Events yang dibuat seolah-olah seperti kisah nyata. Tapi saya suka gaya dia bercerita. Suram, tapi masih menunjukkan harapan. Tiga karakter utama dalam ceritanya itu benar-benar unik. Dan saya sangat suka dengan ide "anak-anak yang mengetahui hal lain melebihi orang dewasa tapi tidak dipercaya dan dianggap omong kosong." Hahahaha. Mungkin karena saya dari kecil selalu diperlakukan begitu oleh orang-orang dewasa di sekitar saya. Tapi saya sudah mulai menikmati keadaan itu. Toh seperti yang ada di cerita ini, ternyata tidak selamanya orang dewasa lebih benar dari anak-anak, bukan? Selain itu gaya dia menyamar sebagai Lemony Snicket benar-benar cerdik. Saya jadi terinspirasi, kalau-kalau suatu hari nanti saya mau meneruskan hobi menulis saya untuk dikomersilkan, saya akan memakai nama dan identitas samaran supaya privasi saya tidak terganggu. Dan supaya kisah saya terkesan lebih hidup saya akan menyarankan orang-orang untuk tidak membaca buku saya karena buku saya berisi tentang realitas yang menyedihkan. LOL. XD

9. J.R.R. Toliken

Tentu saja, karya beliau yang saya baca memang hanya Lord of The Rings. Tapi menurut saya trilogi tersebut sudah mencakup banyak aspek dalam kehidupan. Dan yang Tolkien lakukan adalah sebuah kejeniusan. Sebelum membaca karya Tolkien, saya tidak terlalu menyukai karya-karya High Fantasy. Menurut saya semua High Fantasy rasanya hanya sekedar "entertaining" saja. Seperti Harry Potter yang entertaining. Atau Star Wars yang entertaining juga. Namun, ketika saya menonton, terlebih ketika membaca bukunya, saya merasakan hal yang berbeda dari High Fantasy. Orang-orang dalam cerita LOTR itu terasa begitu dekat. Rasanya saya pernah melihat mereka di sekitar saya. Dan rasanya saya juga pernah merasakan apa yang mereka rasakan. Ternyata terbukti memang Tolkien ingin menceritakan berbagai macam orang yang dikenal dalam sejarah dengan bentuk yang lebih halus, yaitu dengan cara membiarkan mereka hidup di dunia yang benar-benar berbeda. Dan saya salut bagaimana ia mendeskripsikan dunia-dunia tersebut secara detail. Dia bahkan membuat bahasa sendiri untuk mencerminkan dunia tersebut. Dia GILA.

10. Frances Hodgson Burnett

Salah seorang penulis cerita anak-anak yang juga mengungkap sisi lain dari dunia anak-anak. Bedanya, karena ia wanita, saya merasa lebih dekat dengan cerita-ceritanya dan karakter utama yang ada dalam ceritanya. Saya suka dengan cara dia menceritakan tentang anak-anak yang kesepian. Tapi anak-anak yang kesepian itu pun punya cara untuk membangun kebahagiaan mereka sendiri. Yah saya selalu suka cerita tentang orang-orang yang kesepian. Seperti ceritanya Mary Lennox, Collin Craven, Sara Crewe, bahkan Lavinia. Seperti yang dilantunkan Paul McCartney di lagu Eleanor Rigby: "All the lonely people, where do they all come from?"

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS