Tampilkan postingan dengan label schema. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label schema. Tampilkan semua postingan

For the bureaucrat, the world is a mere object to be manipulated by him. - Karl Marx-



I am not a Marxist. (Karl Marx)



Okay, it's been a month (more or less) since I've worked in the so-called famous community that shall not be named (my superego said i had to censor the name) and I finally found one person who at least shared the same opinion as mine.

Well, I'm not saying that other people in my office are not nice. Some people there are nice. Some others aren't. Just like in other human beings community.

And I started to think that it is me who exaggerate everything. So I decided to keep silent. Because in this office, I've learned that not everybody has the same opinion on what it is called as "Freedom of Speech." So, yeah... I decided to respect the majority of people and keep my mouth shut. Though my heart has lately been screaming too much.

But then this boy/man came and told me: "Just say it, you don't need to be ashamed. We're all proletariat here."

Well, then. I just found out that even though I'm surrounded by people who unconsciously are controlled by capitalism, there are still people who use the word "proletariat." Even if they don't fight like Karl Marx or whatsoever, I'm glad enough.

It's been boring there talking with people who don't share the same discourse and schema. So... I'm glad to have someone spelling that "Pro-le-ta-ri-at" from his mouth. It's glad to have someone that understands.

By the way, don't get me wrong. I'm not trying to spread rumours or anything. It's merely my thoughts and opinions on my current office. Then again, I have a different kind of ideology compared to most people in the society. But hell yeah, LIKE I CARE.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

"Severus, Please." SPOILER ALERT


Setelah menonton ulang Harry Potter & The Halfblood Prince (kemarin baru beli vcd-nya :D), saya mulai merasakan bahwa adegan pembunuhan Dumbledore di Menara Astronomi dapat dikaji dengan pendekatan semantik dan pragmatik.

Bagi yang belum nonton atau belum baca bukunya dan tidak menyukai spoiler, sebaiknya tinggalkan saja blog ini. Saya tidak sedang berpura-pura seperti Lemony Snicket. Saya serius. Saya ingin membahas detail dari adegan pembunuhan Dumbledore.

Jadi, seperti yang kita tahu kan sebenarnya Dumbledore sendiri yang meminta Snape untuk membunuhnya (daripada si Draco kan kasihan tuh anak masih belom tersesat).

Tapi si Harry tidak tahu. Dan dia diminta untuk percaya pada Snape meskipun Harry udah suudzon macam2 sama Snape. Saya bisa memahami posisi Harry yang kemudian menganggap Snape mengkhianati kepercayaan Dumbledore karena dia tidak memahami konteks dari percakapan Dumbledore dan Snape yang hanya dia dengar sebagian sebelumnya. Harry tidak memiliki skema yang cukup untuk memahami konteks rencana Dumbledore dan Snape ini.

Sesaat sebelum Snape melancarkan mantra "Avada Kadavra" pada Dumbledore, Dumbledore sendiri mengatakan, "Please" pada Snape.

Nah, kata "Please" inilah yang dapat bermakna ambigu.

Di VCD yang saya beli, kata "Please" diterjemahkan menjadi "Kumohon"

Padahal sebenarnya kata "Please" dapat bermakna macam-macam. Bisa "Kumohon", bisa "tolong", bisa "silakan", bisa "sudahlah" tergantung dari konteks percakapan yang ada.

Apabila saya ada di posisi Harry yang tidak menahu apa2, saya tentu saja akan menyangka bahwa "Please" yang dimaksud Dumbledore di sini berarti "Kumohon."

Bisa jadi, dalam pikiran Harry, Dumbledore ingin menyatakan, "Kumohon, jangan lakukan itu. Kumohon, jagalah kepercayaanku," dan lain sebagainya.

Akan tetapi, mungkin makna dari kata "Please" yang sebenarnya dimaksud oleh Dumbledore adalah "Silakan" karena memang Dumbledore-lah yang meminta Snape membunuhnya. Jadi, saat itu Dumbledore sebenarnya ingin berkata, "Silakan, Severus. Bunuhlah saya sesuai rencana."

Setelah dipikir-pikir lagi, saya bertanya-tanya, apakah terjemahan yang ada di VCD yang saya beli itu berarti terjemahan yang buruk karena tidak sesuai konteks? Hmmm, saya rasa tidak. Sebab, film Harry Potter & The Halfblood Prince ini memang seharusnya menyisakan misteri agar penonton (yang tidak membaca bukunya) tertarik untuk melihat film Harry Potter & The Deathly Hallows. Jadi, saya rasa penerjemahan kata "Please" sebagai "Kumohon" itu disengaja agar penonton diposisikan sebagai Harry yang tidak tahu apa-apa mengenai kejadian sebenarnya yang selanjutnya baru akan ia ketahui di film berikutnya.

Well, moral of the story: Jangan sok tahu kalo anda belum memiliki skema yang cukup untuk memahami konteks suatu kejadian

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS