Tampilkan postingan dengan label pragmatics. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pragmatics. Tampilkan semua postingan

Thank You in Advance

I've taken Semantics Class years a go. But if I'm not mistaken, that was the very first time my lecturer, Mr. Diding, informed me that "Thank you in advance" or "Thanks beforehand" is not common in English. I already knew that "Thanks before" is really "Indonesian English." But I didn't know that the more common version of it "Thank you in advance" is also uncommon in English.

At that time, I just accepted what he said without researching more about it. But today, my curiousity came back in sudden. I googled "Thank You in Advance" and I have found out that "Thanks in advance" is not "only" Indonesian English. It is also a custom in Spain and Russia to say "thank you" even before someone does a favour for us. But definitely, it is not a custom in English speaking countries. They only say thank you after they really receive the help.

And my conclusion from this little research is... I find there's nothing wrong with the phrase. I think there's something wrong with English native speakers. How come they don't say thank you when they know that other people will take an effort in order to help them?

And I think this shows how popular the concept of empiricism in England. they don't think people help them if they haven't received the "actual" help from them.

Well, if you're English native speakers... No offense. Really I just find it strange not saying thank you in anticipation for other people's effort for us. But again, maybe it's because of cultural differences.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

a rush of feminism to the head.

Tadi saya baru saja menonton sinetron Safa & Marwah di RCTI (menemani mama, seperti biasa).

Lalu tiba-tiba saja ada sebuah line yang membuat kuping ini merasakan tanda-tanda ingin digaruk.

Berikut ini cuplikan line yg dituturkan tokoh Ilham pada tokoh Ello :

Ilham: Gue udah serahin Safa ke elo. Lo harus jaga dia. Jangan sekali-kali bikin dia nangis. Kalo lo bikin dia nangis, gue nggak bakal maafin lo.

Ada beberapa kesan yang saya tangkap dari perkataan Ilham ini.

1. Ilham tidak memperhatikan "felicity condition" dari tuturannya. Dia melakukan tindak tutur "memerintah" Ello untuk menjaga Safa dan tidak membuat Safa menangis. Tindak tutur ini sulit terwujud karena a. Ello belum tentu menyetujuinya b. Ello belum tentu dapat menyanggupinya. Secara praktis, seorang perempuan, khususnya yang seperti Safa sangat sulit untuk tidak menangis. Bagaimana kalau nantinya Safa akan menangis tapi Ello tidak sengaja? Bagaimana kalau Safa akan tetap menangis meskipun tidak diapa2kan oleh Ello? Bagaimana kalo Safa menangis tapi bukan karena Ello, tapi suatu saat keadaan membuat seolah-olah Ello yang membuatnya menangis. Hal ini tidak dipikirkan oleh Ilham.

2. Sebenarnya saya tidak suka kalimat Ilham yang seolah-olah menempatkan Safa sebagai "properti" atau "objek." Mengapa Safa harus "diserahkan" kepada Ello? Apakah Safa seperti barang yang bisa diserahterimakan begitu saja. Bahkan Safa bukan istri dari Ilham maupun Ello. Tidak ada ijab kabul apa diserahkan pada siapa, siapa diserahkan sebagai apa. Lalu kenapa Safa tidak boleh menangis? Kenapa harus ada orang yang tidak dimaafkan kalau Safa menangis? Boleh saja kan Safa menangis. Safa, dan semua perempuan di dunia ini (begitu pula laki-laki) memiliki hak untuk menangis. Dan seolah-olah menangis adalah hal yang buruk? Mengapa demikian? Apakah perempuan harus selalu bahagia dan senang-senang saja? Apa dia tidak berhak merasakan kesedihan, kekesalan, dan bentuk emosi lainnya yang normal saja bila dimiliki oleh seorang perempuan (dan laki-laki)? Mengapa perempuan tidak diberikan "hidup" apa adanya? Dan harus dijadikan jaminan untuk menunjukkan bahwa seorang laki-laki mampu menjadi pecinta yang baik. Seolah-olah, seorang laki-laki akan menjadi laki-laki yang "berhasil" bila bisa membuat "perempuan"-nya tidak menangis? Bukankah perempuan juga adalah makhluk yang berhak berdiri sendiri atas perasaannya sendiri?

Dan yang menyedihkan adalah... Kata-kata seperti ini sangat wajar ditemukan di sinetron-sinetron Indonesia. Hhhhh. Mudah2an tidak di kenyataan ya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

"Severus, Please." SPOILER ALERT


Setelah menonton ulang Harry Potter & The Halfblood Prince (kemarin baru beli vcd-nya :D), saya mulai merasakan bahwa adegan pembunuhan Dumbledore di Menara Astronomi dapat dikaji dengan pendekatan semantik dan pragmatik.

Bagi yang belum nonton atau belum baca bukunya dan tidak menyukai spoiler, sebaiknya tinggalkan saja blog ini. Saya tidak sedang berpura-pura seperti Lemony Snicket. Saya serius. Saya ingin membahas detail dari adegan pembunuhan Dumbledore.

Jadi, seperti yang kita tahu kan sebenarnya Dumbledore sendiri yang meminta Snape untuk membunuhnya (daripada si Draco kan kasihan tuh anak masih belom tersesat).

Tapi si Harry tidak tahu. Dan dia diminta untuk percaya pada Snape meskipun Harry udah suudzon macam2 sama Snape. Saya bisa memahami posisi Harry yang kemudian menganggap Snape mengkhianati kepercayaan Dumbledore karena dia tidak memahami konteks dari percakapan Dumbledore dan Snape yang hanya dia dengar sebagian sebelumnya. Harry tidak memiliki skema yang cukup untuk memahami konteks rencana Dumbledore dan Snape ini.

Sesaat sebelum Snape melancarkan mantra "Avada Kadavra" pada Dumbledore, Dumbledore sendiri mengatakan, "Please" pada Snape.

Nah, kata "Please" inilah yang dapat bermakna ambigu.

Di VCD yang saya beli, kata "Please" diterjemahkan menjadi "Kumohon"

Padahal sebenarnya kata "Please" dapat bermakna macam-macam. Bisa "Kumohon", bisa "tolong", bisa "silakan", bisa "sudahlah" tergantung dari konteks percakapan yang ada.

Apabila saya ada di posisi Harry yang tidak menahu apa2, saya tentu saja akan menyangka bahwa "Please" yang dimaksud Dumbledore di sini berarti "Kumohon."

Bisa jadi, dalam pikiran Harry, Dumbledore ingin menyatakan, "Kumohon, jangan lakukan itu. Kumohon, jagalah kepercayaanku," dan lain sebagainya.

Akan tetapi, mungkin makna dari kata "Please" yang sebenarnya dimaksud oleh Dumbledore adalah "Silakan" karena memang Dumbledore-lah yang meminta Snape membunuhnya. Jadi, saat itu Dumbledore sebenarnya ingin berkata, "Silakan, Severus. Bunuhlah saya sesuai rencana."

Setelah dipikir-pikir lagi, saya bertanya-tanya, apakah terjemahan yang ada di VCD yang saya beli itu berarti terjemahan yang buruk karena tidak sesuai konteks? Hmmm, saya rasa tidak. Sebab, film Harry Potter & The Halfblood Prince ini memang seharusnya menyisakan misteri agar penonton (yang tidak membaca bukunya) tertarik untuk melihat film Harry Potter & The Deathly Hallows. Jadi, saya rasa penerjemahan kata "Please" sebagai "Kumohon" itu disengaja agar penonton diposisikan sebagai Harry yang tidak tahu apa-apa mengenai kejadian sebenarnya yang selanjutnya baru akan ia ketahui di film berikutnya.

Well, moral of the story: Jangan sok tahu kalo anda belum memiliki skema yang cukup untuk memahami konteks suatu kejadian

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

A Brief Introduction to My Undergraduate Thesis

Halo halo.... Hari ini saya mau memperkenalkan skripsi saya pada saudara2 sekalian. Sekalian bikin abstraksi sebenarnya, karena dari kemarin2 udah selesai bab 1 (pendahuluan) dan bab 2 (landasan teori), sekarang lagi jalan bab 3 (analisis) tapi masa gue lupa bikin abstraksi. wkwkwkwk. parah beud. ya udah. jadi ini abstraksi dari skripsi saya dan beberapa temuan-temuan yang saya dapat dari proses analisisnya. Jangan diplagiat ya. Kalau mau dicopas ke website lain atau dipublish di media lain di dunia nyata, bilang2 eike dulu dan jangan lupa kasih credit. Yang pasti email dulu deh ke midorima@kuririnmail.com I trust you guys. :D

ABSTRAK

Penulis : Rima Muryantina

Judul : Dialog Alex dan Jonathan dalam Film Everything is Illuminated: Analisis Tindak Tutur dan Implikatur Percakapan dalam Perbedaan Budaya

Bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari sering kali tidak semata-mata digunakan hanya untuk menyampaikan makna tertentu pada pihak kawan bicara,, tetapi juga untuk menunjukkan sikap kita terhadap kawan bicara maupun terhadap topik pembicaraan. Menurut J.L. Austin, sebagian besar tuturan yang diujarkan manusia mencerminkan tindakan manusia terhadap seseorang atau sesuatu. Konsep inilah yang kemudian ia sebut sebagai “tindak tutur.” Dalam tindak tutur manusia, terdapat daya pragmatik yang diharapkan terjadi setelah tuturan tersebut diujarkan. Daya pragmatik ini dapat disampaikan dengan cara langsung maupun tidak langsung. Dalam penuturan tidak langsung, sering kali terdapat implikasi-implikasi makna yang bervariasi dan biasanya tergantung dari konteks tuturan yang diujarkan. Salah satu konteks yang berperan penting dalam memahami makna implisit dari tindak tutur manusia adalah kebudayaan para peserta tutur. Dalam film Everything is Illuminated (2005) arahan Liev Schreiber, terdapat banyak tindak tutur dan implikatur dalam dialog tokoh Alexander Perchov dan Jonathan Foer. Sering kali kedua tokoh ini saling tidak memahami tindak tutur dan implikatur yang mereka gunakan dalam percakapan. Hal ini disebabkan oleh perbedaan latar belakang kebudayaan di antara kedua tokoh. Alex yang lahir dan dibesarkan di Ukraina sering kali tidak memahami konteks tuturan dan implikatur yang digunakan Jonathan yang lahir dan dibesarkan dalam keluarga Yahudi di Amerika, begitu pula sebaliknya. Tindak tutur dan implikatur yang dilakukan kedua tokoh dalam film ini saat berdialog akan dianalisis secara kotekstual dan kontekstual dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk lebih memahami teori Tindak Tutur dan Implikatur Percakapan serta dapat membantu menambah pemahaman mengenai konflik antar tokoh dalam film tersebut.

Kata Kunci: tindak tutur, implikatur percakapan, pragmatik, kebudayaan, film, konflik antar tokoh.


Beberapa hal menarik yang sudah saya temukan dalam proses analisis untuk skripsi ini:

1. Tindak tutur Alex yang selalu menyebut nama Jonathan sebagai "Jonfen" sebenarnya disebabkan karena ketidakfasihannya dalam berbahasa Inggris dan keterikatannya pada aturan fonologis dalam bahasa Ukraina. Dalam fonologi Ukraina, tidak terdapat fonem dental /Ɵ/. Fonem ini digunakan untuk melafalkan "th" dalam nama Jonathan seperti halnya untuk melafalkan "th" dalam kata "think", "thief", dan "thunder." Karena tidak terbiasa melafalkan fonem dental sebelumnya, maka Alex secara tidak sadar mencari bunyi yang mendekati fonem dental dalam fonologi Ukraina. Dalam kasus ini, Alex memilih bunyi fonem labiodental /f/ seperti pada kata "fish" dan "far" untuk melafalkan nama Jonathan.


2. Tindak tutur Jonathan saat ia meminta makanan tanpa daging di restoran tidak dapat dimengerti oleh Alex karena perbedaan kebudayaan yang berkaitan dengan makanan. Alex tidak memahami konsep "vegetarian" yang dimaksud oleh Jonathan karena dalam budaya Ukraina, daging merupakan salah satu makanan utama. Khususnya daging babi dan sosis. Jadi, konsep "tidak memakan daging" dianggap aneh oleh Alex yang lahir dan dibesarkan dengan budaya makan ala Ukraina.


3. Tindak tutur Jonathan ketika melarang Alex untuk menyebut kata "negro" tidak dapat dipahami oleh Alex karena adanya perbedaan Schemata (pengetahuan silam yang didapat melalui pengalaman) yang dimiliki keduanya. Kata "negro" bagi Jonathan yang mengetahui sejarah perbudakan kulit hitam di Amerika merupakan kata yang mengandung konotasi negatif karena dulunya kata ini memang digunakan sebagai alat untuk melakukan FTA (Face Threatening Act: Tindakan atau kata2 yang menyerang "muka" /mempermalukan seseorang) terhadap orang kulit hitam. Sementara itu, Alex yang merupakan orang Ukraina tidak memiliki pengetahuan mengenai sejarah ini dan kata "negro" di Ukraina memiliki makna yang netral dan tidak ofensif.


4. Terdapat juga kesulitan-kesulitan dalam pemahaman dalam konsep "tip" dan "vallet" yang sering digunakan di Amerika namun tidak familiar digunakan di Ukraina.


5. Meskipun pada umumnya perbedaan budaya membuat kedua tokoh sulit memahami masing-masing tindak tutur dan implikatur, ada beberapa tindak tutur dan implikatur yang dipertahankan dan dimengerti untuk menjaga kesantunan secara pragmatik. Inilah yang membedakan sopan santun dalam konsep sosiolinguistik dan kesantunan dalam konsep pragmatik. Sopan santun dalam konsep sosiolinguistik hanya menyangkut elemen-elemen bahasa yang dianggap sopan pada budaya tertentu, sementara kesantunan dalam pragmatik merupakan elemen bahasa yang sengaja dipilih untuk tidak menyakiti pihak kawan bicara secara universal, tidak peduli budaya apa yang mempengaruhi para peserta tutur (terima kasih atas penjelasan salah seorang dosen linguistik dari prodi Indonesia pada kuliah umum PMPK hari ini :D). Dalam rangka menjaga kesantunan pragmatik ini, kedua tokoh menggunakan tindak tutur dan implikatur tertentu. Sebagai contoh, tokoh Alex selalu menerjemahkan tuturan kasar kakeknya dalam bahasa Ukraina ke dalam bahasa Inggris yang lebih sopan untuk menjaga hubungannya dengan Jonathan yang merupakan kliennya. Hal ini juga menunjukkan adanya relasi kuasa antara tokoh Alex dan Jonathan, yang mana tokoh Jonathan sebagai klien memiliki dominasi atas Alex dan karena itulah kesantunan menjadi tujuan dari tuturan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS