Tampilkan postingan dengan label culture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label culture. Tampilkan semua postingan

Thank You in Advance

I've taken Semantics Class years a go. But if I'm not mistaken, that was the very first time my lecturer, Mr. Diding, informed me that "Thank you in advance" or "Thanks beforehand" is not common in English. I already knew that "Thanks before" is really "Indonesian English." But I didn't know that the more common version of it "Thank you in advance" is also uncommon in English.

At that time, I just accepted what he said without researching more about it. But today, my curiousity came back in sudden. I googled "Thank You in Advance" and I have found out that "Thanks in advance" is not "only" Indonesian English. It is also a custom in Spain and Russia to say "thank you" even before someone does a favour for us. But definitely, it is not a custom in English speaking countries. They only say thank you after they really receive the help.

And my conclusion from this little research is... I find there's nothing wrong with the phrase. I think there's something wrong with English native speakers. How come they don't say thank you when they know that other people will take an effort in order to help them?

And I think this shows how popular the concept of empiricism in England. they don't think people help them if they haven't received the "actual" help from them.

Well, if you're English native speakers... No offense. Really I just find it strange not saying thank you in anticipation for other people's effort for us. But again, maybe it's because of cultural differences.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Still On My Undergraduate Thesis :: Facts About Ukraine


Baiklah, saya akan membahas tentang skripsi lagi. Jangan bosen ya. *Tapi nampaknya tidak ada juga yang memperhatikan blog saya, jadi saya mau teriak2 hal gajebo di sini juga tidak apa2. Asiiik!!! Sudah lama aku tidak merasa seperti ini! Untung pindah blog! (Lompat2 di kasur) XD

Jadi, seperti yang saya jelaskan sebelumnya, skripsi saya membahas tentang tindak tutur dan implikatur antara tokoh Alex Perchov dan Jonathan Foer dalam film Everything is Illuminated. Tepatnya, saya membahas tentang kegagalan tindak tutur dan implikatur yang sering terjadi di antara mereka berdua karena perbedaan budaya di antara mereka. Karena itulah, saya pun mau tidak mau harus mencari tahu beberapa hal tentang kebudayaan Ukraina (yang menjadi latar budaya tokoh Alex) dan kebudayaan Amerika serta sedikit kebudayaan Yahudi (yang menjadi latar budaya tokoh Jonathan).

Kalau soal Amerika dan Yahudi, saya sebenarnya tidak terlalu terkejut. Beberapa dari informasi mengenai kebudayaan Amerika dan Yahudi sudah saya ketahui sebab memang selama saya belajar di Program Studi Inggris UI, saya harus mempelajarinya.

Yang jauh lebih menarik bagi saya adalah mengetahui Kebudayaan Ukraina, negara yang selama ini hanya saya ketahui sebagai negara pecahan Uni Soviet yang beribukota Kiev. Ya, selama ini hanya itu saja yang saya tahu tentang Ukraina. Period. That's all.

Jadi, berikut ini adalah beberapa informasi baru mengenai Ukraina yang saya ketahui berkat mengerjakan skripsi:

1. Generasi muda Ukraina tertarik dengan Amerika karena Amerika adalah musuh dari musuh mereka (Uni Soviet, yang dianggap penjajah). Dukungan Amerika sangat berpengaruh bagi pengakuan kedaulatan mereka pada awal tahun 1990-an.

2. Di Ukraina sering terjadi sentimen antar etnis. Suku asli Ukraina adalah Slavia, dan orang dari etnis Slavia biasanya tidak menyukai orang2 dari etnis lain (Armenia, Turki, Hungaria, dsb) begitu pula sebaliknya.

3. Di Ukraina juga sering terjadi kecemburuan sosial antara orang desa dan orang kota (sama saja sih dengan di sini).

4. Meskipun demikian, kebencian dan sentimen yang sangat besar ditujukan pada ras Yahudi. Hal ini disebabkan karena orang Ukraina menganut agama Kristen Ortodoks dan dalam agama Kristen, orang Yahudi adalah musuh Kristus (yang melaporkan pada orang Romawi hingga Kristus disalib? CMIIW). Selain itu, kebencian terhadap Yahudi juga dipicu oleh status orang-orang Yahudi yang menjadi Tuan Tanah di Ukraina.

5. Di Ukraina, perempuan memang mendapatkan diskriminasi dalam pekerjaan-pekerjaan tertentu. Perempuan dianggap paling berharga bila mengurus dan menjaga rumah tangga (jadi pekerjaan sebagai wanita karier dianggap mengganggu).

6. Orang Ukraina juga tidak menyukai homoseksual karena bertentangan dengan tradisi mereka.

7. Orang Ukraina suka makan daging (oh, ini udh saya sebutkan ya di post sebelumnya) XD

Udah deh... segitu dulu. Apa hubungannya dengan tindak tutur dan implikatur? Tidak dapat saya jelaskan lebih lanjut. Nanti saja kalau sidang. wkwkwkkw. XD

Doakan ini skripsi cepat selesai ya T___T

oh, ya kelupaan. Saya juga baru tahu kalo orang Ukraina itu emg suka menanam bunga matahari. Terus mereka juga bisa bikin minyak dari bunga matahari? (??? :O) Tapi kelihatannya banyak ditentang sama Uni Eropa. Nggak ngerti kenapa (ini bukan bagian dari tindak tutur dan implikaturnya sih makanya tidak kucari tahu lebih lanjut).

Oke deh, ini kuberikan saja gambar bunga matahari, bunga favoritku yang terkenal di Ukraina :D

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

A Brief Introduction to My Undergraduate Thesis

Halo halo.... Hari ini saya mau memperkenalkan skripsi saya pada saudara2 sekalian. Sekalian bikin abstraksi sebenarnya, karena dari kemarin2 udah selesai bab 1 (pendahuluan) dan bab 2 (landasan teori), sekarang lagi jalan bab 3 (analisis) tapi masa gue lupa bikin abstraksi. wkwkwkwk. parah beud. ya udah. jadi ini abstraksi dari skripsi saya dan beberapa temuan-temuan yang saya dapat dari proses analisisnya. Jangan diplagiat ya. Kalau mau dicopas ke website lain atau dipublish di media lain di dunia nyata, bilang2 eike dulu dan jangan lupa kasih credit. Yang pasti email dulu deh ke midorima@kuririnmail.com I trust you guys. :D

ABSTRAK

Penulis : Rima Muryantina

Judul : Dialog Alex dan Jonathan dalam Film Everything is Illuminated: Analisis Tindak Tutur dan Implikatur Percakapan dalam Perbedaan Budaya

Bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari sering kali tidak semata-mata digunakan hanya untuk menyampaikan makna tertentu pada pihak kawan bicara,, tetapi juga untuk menunjukkan sikap kita terhadap kawan bicara maupun terhadap topik pembicaraan. Menurut J.L. Austin, sebagian besar tuturan yang diujarkan manusia mencerminkan tindakan manusia terhadap seseorang atau sesuatu. Konsep inilah yang kemudian ia sebut sebagai “tindak tutur.” Dalam tindak tutur manusia, terdapat daya pragmatik yang diharapkan terjadi setelah tuturan tersebut diujarkan. Daya pragmatik ini dapat disampaikan dengan cara langsung maupun tidak langsung. Dalam penuturan tidak langsung, sering kali terdapat implikasi-implikasi makna yang bervariasi dan biasanya tergantung dari konteks tuturan yang diujarkan. Salah satu konteks yang berperan penting dalam memahami makna implisit dari tindak tutur manusia adalah kebudayaan para peserta tutur. Dalam film Everything is Illuminated (2005) arahan Liev Schreiber, terdapat banyak tindak tutur dan implikatur dalam dialog tokoh Alexander Perchov dan Jonathan Foer. Sering kali kedua tokoh ini saling tidak memahami tindak tutur dan implikatur yang mereka gunakan dalam percakapan. Hal ini disebabkan oleh perbedaan latar belakang kebudayaan di antara kedua tokoh. Alex yang lahir dan dibesarkan di Ukraina sering kali tidak memahami konteks tuturan dan implikatur yang digunakan Jonathan yang lahir dan dibesarkan dalam keluarga Yahudi di Amerika, begitu pula sebaliknya. Tindak tutur dan implikatur yang dilakukan kedua tokoh dalam film ini saat berdialog akan dianalisis secara kotekstual dan kontekstual dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk lebih memahami teori Tindak Tutur dan Implikatur Percakapan serta dapat membantu menambah pemahaman mengenai konflik antar tokoh dalam film tersebut.

Kata Kunci: tindak tutur, implikatur percakapan, pragmatik, kebudayaan, film, konflik antar tokoh.


Beberapa hal menarik yang sudah saya temukan dalam proses analisis untuk skripsi ini:

1. Tindak tutur Alex yang selalu menyebut nama Jonathan sebagai "Jonfen" sebenarnya disebabkan karena ketidakfasihannya dalam berbahasa Inggris dan keterikatannya pada aturan fonologis dalam bahasa Ukraina. Dalam fonologi Ukraina, tidak terdapat fonem dental /Ɵ/. Fonem ini digunakan untuk melafalkan "th" dalam nama Jonathan seperti halnya untuk melafalkan "th" dalam kata "think", "thief", dan "thunder." Karena tidak terbiasa melafalkan fonem dental sebelumnya, maka Alex secara tidak sadar mencari bunyi yang mendekati fonem dental dalam fonologi Ukraina. Dalam kasus ini, Alex memilih bunyi fonem labiodental /f/ seperti pada kata "fish" dan "far" untuk melafalkan nama Jonathan.


2. Tindak tutur Jonathan saat ia meminta makanan tanpa daging di restoran tidak dapat dimengerti oleh Alex karena perbedaan kebudayaan yang berkaitan dengan makanan. Alex tidak memahami konsep "vegetarian" yang dimaksud oleh Jonathan karena dalam budaya Ukraina, daging merupakan salah satu makanan utama. Khususnya daging babi dan sosis. Jadi, konsep "tidak memakan daging" dianggap aneh oleh Alex yang lahir dan dibesarkan dengan budaya makan ala Ukraina.


3. Tindak tutur Jonathan ketika melarang Alex untuk menyebut kata "negro" tidak dapat dipahami oleh Alex karena adanya perbedaan Schemata (pengetahuan silam yang didapat melalui pengalaman) yang dimiliki keduanya. Kata "negro" bagi Jonathan yang mengetahui sejarah perbudakan kulit hitam di Amerika merupakan kata yang mengandung konotasi negatif karena dulunya kata ini memang digunakan sebagai alat untuk melakukan FTA (Face Threatening Act: Tindakan atau kata2 yang menyerang "muka" /mempermalukan seseorang) terhadap orang kulit hitam. Sementara itu, Alex yang merupakan orang Ukraina tidak memiliki pengetahuan mengenai sejarah ini dan kata "negro" di Ukraina memiliki makna yang netral dan tidak ofensif.


4. Terdapat juga kesulitan-kesulitan dalam pemahaman dalam konsep "tip" dan "vallet" yang sering digunakan di Amerika namun tidak familiar digunakan di Ukraina.


5. Meskipun pada umumnya perbedaan budaya membuat kedua tokoh sulit memahami masing-masing tindak tutur dan implikatur, ada beberapa tindak tutur dan implikatur yang dipertahankan dan dimengerti untuk menjaga kesantunan secara pragmatik. Inilah yang membedakan sopan santun dalam konsep sosiolinguistik dan kesantunan dalam konsep pragmatik. Sopan santun dalam konsep sosiolinguistik hanya menyangkut elemen-elemen bahasa yang dianggap sopan pada budaya tertentu, sementara kesantunan dalam pragmatik merupakan elemen bahasa yang sengaja dipilih untuk tidak menyakiti pihak kawan bicara secara universal, tidak peduli budaya apa yang mempengaruhi para peserta tutur (terima kasih atas penjelasan salah seorang dosen linguistik dari prodi Indonesia pada kuliah umum PMPK hari ini :D). Dalam rangka menjaga kesantunan pragmatik ini, kedua tokoh menggunakan tindak tutur dan implikatur tertentu. Sebagai contoh, tokoh Alex selalu menerjemahkan tuturan kasar kakeknya dalam bahasa Ukraina ke dalam bahasa Inggris yang lebih sopan untuk menjaga hubungannya dengan Jonathan yang merupakan kliennya. Hal ini juga menunjukkan adanya relasi kuasa antara tokoh Alex dan Jonathan, yang mana tokoh Jonathan sebagai klien memiliki dominasi atas Alex dan karena itulah kesantunan menjadi tujuan dari tuturan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS