Good Stories from Perth
Random Things About Me
Baru selesai ngedit terjemahan dokumen kantor mama. Karena nggak ada kerjaan, nulis ini aja deh ntuk para followers blog yang belum kenal saya dengan baik....
- Nama: Rima Muryantina
- Tempat Tanggal Lahir: Jakarta, 10 Oktober 1988
- Sekolah: TK Aisyah Limau Jakarta, SD Muhammadiyah 5 Jakarta, SLTPN 11 Jakarta, SMAN 70 Jakarta, Universitas Indonesia (Sastra Inggris, skripsi linguistik), Australian National University (linguistics).
- Riwayat pekerjaan: Pernah jadi guru, penerjemah, editor, copywriter, dosen, penulis, peneliti (linguis), data entry juga pernah. Intinya sih dari dulu smp sekarang kemampuannya kalau nggak yg berhubungan sm tulis2an ya ngajar bahasa.
- Suka warna hijau dari lahir sampai sekarang.
- Waktu kecil pernah menari balet dan cantik bagaikan Seohyun SNSD waktu pertama kali audisi untuk SM. Kemudian semua itu hancur ketika menginjak bangku SMP kelas 2. Karena begitu rakus dan tidak merawat diri, Allah mengambil kecantikanku. Fair enough.
- Tidak bisa olahraga. Satu-satunya yang dapat membangkitkan nilai olahraga saat sekolah hanya senam lantai karena sebelumnya pernah balet. Waktu kuliah pernah mencoba aikido karena ingin bisa bela diri, tapi langsung menyerah. Sekarang lebih suka olahraga di rumah dengan alat2 yg dibeli mama dari TV Media atau sejenisnya. :)))
- Meski tidak bisa olahraga, tapi suka nonton olahraga seperti sepakbola, bulutangkis, tenis, dan bela diri Jepang.
- Makanan kesukaan puding, sate padang, dan makaroni. Makanan yang tidak disukai bawang goreng.
- Minuman yang paling disukai Iced Lemon Tea. Minuman yang tidak disukai minuman2 yang memabukkan.
- Hobi: menyampah di Timeline Twitter, reblogging di Tumblr, menulis, membaca, belajar bahasa, menonton film keluarga, berkebun, memelihara kucing, main catur, menggambar abstrak (atau lebih tepatnya corat-coret), memainkan dan menyuarakan boneka (dulu karena baca komik Puppet Show-nya Ayuko Omi pernah sempet pengen jadi ahli seni pertunjukan boneka -___-).
- Hal yang disukai: Islam, internet, linguistik, arsitektur yang bagus, tanaman, hewan, psikologi, astronomi, sinematografi yang bagus.
- Tempat yang disukai: Masjid, perpustakaan, rumah, supermarket dan department store yang isinya ibu2 (bukan anak muda).
- Film yang disukai: Genre suka drama dan horor yang bisa ditonton keluarga (minim adegan porno). Aku suka Ordinary People, Kramer Vs. Kramer, Muhammad: The Messenger of God, Free Willy, Home Alone, My Girl, The Secret Garden, Lion King, Beauty and the Beast, The Cure, Sense and Sensibility, Life is Beautiful, The Legend of 1900, The Sixth Sense, The Lord of the Rings Trilogy, Harry Potter Series, Everything is Illuminated, Pride and Prejudice, The Woman in Black, Coraline, A Series of Unfortunate Events, dsb. Tidak suka film action. Sebenarnya suka Amelie karena sinematografinya bagus, tapi terlalu banyak adegan pornonya jadi dicoret dari list. Saya mau bertobat dari menonton film2 yang sedemikian.
- Tipe pria idaman: Dulu musisi2 yang brewok dan gondrong kayak Alex Turner, Dhani Harrison, dan Yoriyos (Muhammad Islam, anaknya Yusuf Islam, vokalis Band Noxshi). Sekarang tipe pria idaman yang kaya raya dan penyayang binatang seperti Nabi Sulaiman alaihissalam. *makin jauh dari realita kehidupan*
- Serial favorit saat ini Omar dan New Girl. Dulu suka Party of Five, Gilmore Girls, Everwood, Jewel in the Palace (Jang Geum), Oshin, Rindu2 Aisawa, Long Vacation, 1 Litre of Tears. Waktu tahun 90an pernah suka nonton sinetron dan telenovela.
- Kartun favorit: Rurouni Kenshin. Tapi sekarang lebih milih nonton Spongebob Squarepants, Shaun the Sheep, Pingu, dan kartun2 untuk anak2 di B TV, Space Toon, dan Global TV.
- Buku kesukaan: Al-Qur'an, buku2 linguistik, novel dan kumpulan cerpen Tolstoy dan Edgar Allan Poe, komik Mafalda dan karya2 Yoko Matsumoto.
- Linguis favorit: Noam Chomsky, Anna Wierzbicka, William Labov
- Cita2 yg tidak tercapai: Penemu, ahli astronomi, arsitek, balerina, detektif.
- Cita2 yg sudah tercapai: Penulis, pengajar
- Cita2 yg masih diperjuangkan: Menjadi penulis skenario acara anak2 di TV, kalau perlu bikin pertunjukan boneka, menulis buku untuk anak2.
- Yang tidak pernah dicita2kan: Linguis/peneliti, penerjemah, copywriter.
- Trivia lain tentang saya: Lebih suka mengajar anak2 daripada mahasiswa, masih memendam hasrat membuat acara televisi pertunjukan boneka tangan kayak Sesame Street atau Unyil di TV, ingin menggubah puisi-puisi buatan saya jadi lagu dan ingin bisa beatboxing meniru suara alat musik sehingga lebih aman bila ingin menciptakan lagu (saya tidak dapat menfatwakan musik itu haram/tidak karena keterbatasan saya sebagai manusia, tapi memang terlalu ketagihan musik tidak baik dan musik2 jaman sekarang lebih banyak mudharatnya). :(
It's Getting Better
Jadi gue udah resmi resign dari kantor yang lama, tapi tetap menjalin hubungan baik dengan para rekan kerja. Dan hubungan gue dengan bokap juga udah membaik. Dia udah kembali normal. Terus hari ini juga ketemu nenek untuk meneliti tentang bahasa dan budaya Batak. Nenek gue (opung boru) jadi bahan penelitian gue. Hehehe. Penelitian ini bakal gue dedikasikan buat almarhum opung doli, kakek gue yang meninggal hampir 2 bulan yang lalu. Dan Alhamdulillah, hari ini Opung Boru juga lagi normal. Haha.
Target 2012
1. Harus nyelesain kerjaan kantor. Harus tetap semangat tapi tetap jaga kesehatan. Jangan terlalu ambisius kerjanya (karena ini juga masih belajar), tapi jangan merepotkan si Bapak dan si Ibu (Boss).
2. Udah diterima jadi anggota ALAA (Applied Linguistics Association of Australia), abstrak udah diterima untuk International Conference of Austronesian Linguistics (ICAL) dan bakal presentasi di Bali bulan Juli. Doakan saya yaaa semoga lancaaar. Untuk presentasi kali ini, aku mau ngebahas penggunaan kata "opung" dalam bahasa Batak pake pendekatan teori NSM. Tapi sebelumnya aku akan menjadikan nenekku sebagai bahan penelitian sekaligus memperbaiki tali silaturahmi dengan beliau. Selama ini gue kebanyakan suudzon sama doi. Hahaha.
3. Tahun ini nargetin ikut translation conference buat bahas penerjemahan laporan tahunan (karena ditunjang oleh pengalaman kerjaku). Dan yang jelas yg kutargetin lagi ya ALAA conference bulan Desember nanti yang diadain di Perth. Moga2 abstrakku diterima supaya ada alasan buat balik ke Australia. Hahaha.
4. Pengen belajar aikido dan fotografi. Fotografi bisa otodidak. Aikido nanti mau daftar di Bulungan. Biar tubuh sehat lah. Biar ada olahraganya. Tapi ini ntar aja kalau udah selesai deadline AR. Berarti pas bulan Mei.
5. Pengen belajar 1 bahasa lagi yang serius. Maunya sih mantepin Arab, Jepang, Jerman, atau belajar Mandarin mulai dari dasar. Tapi kalau nggak ada yang deket rumah, ya terpaksa ikut CCF lagi aja (yg paling deket rumah). huhuhu. Biarpun ga terlalu suka Perancis, tp at least pernah belajar. Jadi ga terlalu susah. Tapi ini juga ntar aja setelah deadine AR selesai.
6. Harus selesain edit buku mama pas bulan Apriiiil!!! AAAAAAAAAA!!!! *jedot2in pala ke tembok*
7. Bulan Maret nanti sempetin ke festival Agro di Kementrian Pertanian. Sekalian belajar gardening juga biar bisa budidaya tanaman2 yg bermanfaat di halaman rumah yg gersang.
8. Selesain baca buku2 oke dan mantepin main catur pake taktik yg serius biar menang lawan Papa. hahahaha.
9. Kalo ada waktu, mantepin nyetir mobil. Kalo nggak ya tahun depan aja. Toh gue demen naik 70. Anginnya kalo lg ngebut enak.
The New Diary of an Indie Linguist (and a Not-So-Indie Copywriter)
Heyhooo! Blog ini udah dibuka lagi karena Rima udah sembuh dari depresi. Hahaha.
Tadinya sempet dilock untuk pribadi karena takut Rima ngepost hal2 mengerikan selama masa depresi. Jadi dibuat blog lain di tumblr yg cuma reblog2 dan post2 pikiran2 random bin stress di sana supaya bisa ngontrol yg di sini hahaha. Nggak ngerti, kan? Yaudah deh. Panjang ceritanya.
Jadi intinya selama hampir 2 tahun terakhir gue tuh lg "sakit." Jadi kalo postingannya kyk org stress ya emg gitu lah adanya. DAAAAANNNN bagi yg belom pernah "sakit" atau "depresi" atau apapun jenisnya, bersyukur aja sm Allah swt. Bagi yang Islam, banyak2 solat, puasa, dzikir, sholawat, tadarus, zakat, naik haji jika mampu. Percaya lah ga ada yg omong kosong dari ritual2 itu. Semua ada maknanya. Kesemuanya itu dapat menyembuhkan jiwa yang sakit. Lebih ampuh daripada Ruqyah, panti rehabilitasi, maupun rumah sakit jiwa.
Dan gue memutuskan untuk balik aja lagi ke bahasa GAOEL Indonesia SECARA gue bosen banget setahun penuh ngomong Inggris melulu di negeri orang dan pas sekarang udh dapet kerjaan pun berkutatnya sama bahasa Inggris.
Jadi apa kabar gue selama setahun menghilang bertapa di negeri orang utk "menyembuhkan" penyakit gue dan memperbaiki hidup gue yang sempet lebih ancur dari lemari pakaian gue (nyebar aib)? Yang jelas setahun kemarin gue kuliah linguistik di Australian National University. Alhamdulillah, udah lulus.
Gue udh mulai mengikhlaskan cita2 gue jadi dosen yg ga bakal kejadian kalo UI keadaannya kayak gini terus (ya, dengan menyebarnya aib universitas gue itu dengan sendirinya di media massa, gue ga perlu jelasin kenapa sulit bgt bg gue utk ngajar di UI meski itu dulu cita2 gue). Tapi gue masih belom menyerah akan cita2 gue jadi linguis. Udh ngelamar jd peneliti ke beberapa universitas, dan entah kenapa ada aja masalahnya. Udh beres masalah yg satu, ga jadi klop krn masalah yg lain. Terus gue jg udh nyoba kirim proposal penelitian ke LIPI. tapi ternyata oh... ternyata... tak ada peluang CPNS 2012, padahal ada peneliti bahasa yg butuh asisten.
Sebenarnya kesempatan2 kerjaan jd linguis lebih banyak ditawarkan ANU. tapi ga gue coba sama sekali karena setelah semedi setahun kemarin, gue lebih memilih memperbaiki hubungan gue sm orang tua gue daripada tinggal di Canberra dan pindah kewarganegaraan kemudian nikah sama F****.
Ya. Sudahlah. Ortu gue lebih penting daripada Canberra dan cita2 gue dan lebih penting daripada F****.
Intinya gue suka banget kuliah di sana. Banyak banget belajar tentang kehidupan di sana. Gue berterima kasih banget dengan orang2 di sana yg baik2 sama gue. Dan meskipun gue udah lulus, mereka masih nawarin ikut konferensi linguistik dan ga ngelarang ai ngedaftar walau status udh bukan pelajar di universitas mana pun. Gue udh ngirim paper ke salah satu konferensi. Pengumuman diterima/nggak-nya Februari. Doain yaaa.
Sementara menjadi linguis "indie" *cihuy* saya pun telah memiliki pekerjaan tetap sebagai Copywriter di suatu firma konsultasi Hubungan Investor. Boss saya orang FEUI (ALHAMDULILLAHIROBBIL'ALAMIIN) ---> jangan heran. gue emg punya perasaan kagum bercampur iri bercampur kesel bercampur fangirling sama orang2 FEUI yang sukses. siapa aja. LOL. #akibatsalahjurusan #abaikan
Jadi tugas gue intinya sih bikin Laporan Tahunan, Laporan Keberlanjutan, Press Release, dsb yg bisa membantu mempromosikan perusahaan2 klien. Gue seneng banget kerjaan ini karena dari dulu suka ekonomi dan krn emg suka bahasa (jd ini gabungan 2 hal yg saya sukai). Terlebih lagi, ini kayak kelas lanjutan pelajaran ekonomi dan media yang dulu pernah gue ambil ilmu pengantarnya waktu kerja sama Pak Gde. *duh, belom sempet silaturahmi sm Pak Gde, nih. jd nggak enak.
Hmmm... selain itu, hidup gue so far so good. Jauh lebih baik dari dulu. Oh iya, mungkin di post2 selanjutnya bakal ngebahas tentang proses pelamaran kerja gue beserta interview2nya. haha. Di antara 6 perusahaan yg manggil, gue paling cocok sama yg ini.
Dan mungkin post yg berikutnya lagi bakal bahas tentang kuliah Dr. Bilal Phillips yang kuhadiri di Mesjid Al-Azhar hari ini. Keren banget kuliahnya. Menohok, menampar, terutama bagi orang yg memendam banyak penyakit hati seperti saya.
Sekian curhat2 dari saya,
Wassalam wr.wb.
Linguistics, my love, wait for me!!
I guess I already told you in my previous post that I've been accepted at the Australian National University, Canberra. I registered for Master of Linguistics (coursework) program, but ANU staff offered me Master of Linguistics (research) program instead. They said that I have a potential in this program considering my undergraduate thesis (I did some research on speech acts and implicatures on the dialogues in the movie Everything is Illuminated, which resulted in very interesting cultural and linguistic conclusions. I even admire myself for being able to do such a wonderful job. I love my undergraduate thesis. That's one of the very few things I hardly regret from my undergraduate study experience).
But as I think about it carefully, I think research program will cost more time and money. And I'm not such person who loves to risk my time and money. Time and money are like the two best gifts God ever gave me, you know. Of course, there's a possibility for scholarships. But it's not a full-fund scholarship and I have to compete with other people who probably deserve scholarship better than me. So, nah. I'm still in my previous choice: coursework program, as it is more efficient and effective, in my opinion. Besides, coursework program doesn't only provide me courses in the class. I should also write some 20,000 - 30,000 words sub thesis, which I believe will improve my academic writing skill.
Other than that, I just want to take one-year program so that I could come back to Indonesia (Hell YEAH, I'd love to leave Indonesia like FOREVER. but my family will not allow me) and find a more suitable job for my career. My one-year working experience was kinda a huge failure, despite I got so much knowledge (whether economic and lingustic knowledge) from my job as an editor at Markets.co.id. Thank you, Mr. Gde Anugerah Arka for that. But still, I want to find a job, which I will love for the rest of my life. A job that will get along with my linguistic hobbies.
Well, let's just pray I'll find some job in Australia. If there's still some more good luck available for me. Then, I don't have to return to Indonesia and I will probably be so filthy rich.
So now... I'm excited in preparing everything. From passport, visa, accommodation (I registered for a room in Fenner Hall, ANU. But I'm not sure yet whether they will accept me or not. Let's pray for the best), etc.
And here are the courses I'm going to take during my study there. Some of the courses sound so exciting. Oh, no. ALL OF THEM sound exciting. I love linguistics so much.
Compulsory courses (Group A):
LING6001 - Introduction to the Study of Language
And at least two of (Group B):
LING6003-Introduction to Syntax
LING6005-Language Change and Linguistic Reconstruction
LING6008-Semantics
LING6010-Phonetics: Sound of the Worlds Languages
LING6019-Phonological Analysis
Elective Courses:
LING6002-Language and Society
LING6007-Morphology
LING6009-Field Methods
LING6015-Language and Culture
LING6016-Language in Indigenous Australia
LING6017-The Chinese Language
LING6018-Languages in Contact
LING6020-Structure of English
LING6021-Cross-Cultural Communication
LING6022-Language Planning and Language Politics
LING6023-Dictionaries and Dictionary Making
LING6026-Syntactic Theory
LING6101-Second Language Acquisition
LING6103-Discourse and Society
LING6505-Acoustics of Voice
LING6508-Study of a Language Family
LING6509-Research Design in (Applied) Linguistics
LING6511-Conversation Analysis
LING6521-Child Language Acquisition
LING6522-Seminar on Semantics
LING6525-Special Topics in Linguistics
LING8025 - Tools and Resources for Language Analysis
Kurt Cobain's Suicide Note
I've always been a fan of Kurt Cobain. And for me, his death is such a mystery. As I'm getting more interested in Forensic Linguistics, I want to analyze Kurt Cobain's suicide note from linguistic perspective.
So here's the legendary note:
--------------------------------------------
To Boddah
Speaking from the tongue of an experienced simpleton who obviously would rather be an emasculated, infantile complain-ee. This note should be pretty easy to understand.
All the warnings from the punk rock 101 courses over the years, since my first introduction to the, shall we say, ethics involved with independence and the embracement of your community has proven to be very true. I haven't felt the excitement of listening to as well as creating music along with reading and writing for too many years now. I feel guity beyond words about these things.
For example when we're back stage and the lights go out and the manic roar of the crowds begins., it doesn't affect me the way in which it did for Freddie Mercury, who seemed to love, relish in the the love and adoration from the crowd which is something I totally admire and envy. The fact is, I can't fool you, any one of you. It simply isn't fair to you or me. The worst crime I can think of would be to rip people off by faking it and pretending as if I'm having 100% fun. Sometimes I feel as if I should have a punch-in time clock before I walk out on stage. I've tried everything within my power to appreciate it (and I do,God, believe me I do, but it's not enough). I appreciate the fact that I and we have affected and entertained a lot of people. It must be one of those narcissists who only appreciate things when they're gone. I'm too sensitive. I need to be slightly numb in order to regain the enthusiasms I once had as a child.
On our last 3 tours, I've had a much better appreciation for all the people I've known personally, and as fans of our music, but I still can't get over the frustration, the guilt and empathy I have for everyone. There's good in all of us and I think I simply love people too much, so much that it makes me feel too fucking sad. The sad little, sensitive, unappreciative, Pisces, Jesus man. Why don't you just enjoy it? I don't know!
I have a goddess of a wife who sweats ambition and empathy and a daughter who reminds me too much of what i used to be, full of love and joy, kissing every person she meets because everyone is good and will do her no harm. And that terrifies me to the point to where I can barely function. I can't stand the thought of Frances becoming the miserable, self-destructive, death rocker that I've become.
I have it good, very good, and I'm grateful, but since the age of seven, I've become hateful towards all humans in general. Only because it seems so easy for people to get along that have empathy. Only because I love and feel sorry for people too much I guess.
Thank you all from the pit of my burning, nauseous stomach for your letters and concern during the past years. I'm too much of an erratic, moody baby! I don't have the passion anymore, and so remember, it's better to burn out than to fade away.
Peace, love, empathy.
Kurt Cobain
Frances and Courtney, I'll be at your alter.
Please keep going Courtney, for Frances.
For her life, which will be so much happier without me.
I LOVE YOU, I LOVE YOU!
-------------------------------
Sorry, I'm not gonna discuss about the analysis in this blog. As I'm still studying more comprehensively about forensic linguistics itself, and I want to make this research as my research paper for my graduate study.
For now, I only share the suicide note with you.. I don't know how it affects others, but it really breaks my heart every time I read this note. Somehow I can understand him.... in a way that most people don't understand.
Thank You in Advance
I've taken Semantics Class years a go. But if I'm not mistaken, that was the very first time my lecturer, Mr. Diding, informed me that "Thank you in advance" or "Thanks beforehand" is not common in English. I already knew that "Thanks before" is really "Indonesian English." But I didn't know that the more common version of it "Thank you in advance" is also uncommon in English.
At that time, I just accepted what he said without researching more about it. But today, my curiousity came back in sudden. I googled "Thank You in Advance" and I have found out that "Thanks in advance" is not "only" Indonesian English. It is also a custom in Spain and Russia to say "thank you" even before someone does a favour for us. But definitely, it is not a custom in English speaking countries. They only say thank you after they really receive the help.
And my conclusion from this little research is... I find there's nothing wrong with the phrase. I think there's something wrong with English native speakers. How come they don't say thank you when they know that other people will take an effort in order to help them?
And I think this shows how popular the concept of empiricism in England. they don't think people help them if they haven't received the "actual" help from them.
Well, if you're English native speakers... No offense. Really I just find it strange not saying thank you in anticipation for other people's effort for us. But again, maybe it's because of cultural differences.
While Waiting for The Rain to Stop
Okay, I'm waiting for the rain to stop. If it doesn't stop yet, I won't be able go to my faculty to assist Writing class. God, I hope it will stop raining soon.
Meanwhile, I have translated two professor profiles and I have finished two Teacher Training journals.
Give me a big applause!!! *clap clap clap* ---> nevermind
---------------------------------------------------
Still waiting for the rain to stop, I'm gonna tell you about my future plans. I'm planning to try Fulbright scholarship program. I want to study linguistics in America. Wish me luck.
I'm planning to focus on pragmatics, sociolinguistics, and historical linguistics. If I could I want to discuss about bahasa Indonesia and Indonesian local languages in my future thesis. And I have observed some universities in the U.S. And I have to choose 3 universities that I would like to attend. However, I found these four:
Yale University
It is one of the best universities in the U.S. It also has one of the best linguistics department. But I got only a little information from the site. I'm not sure whether or not they will encourage my ideas about Bahasa Indonesia and Indonesian local languages. However, they do encourage researches on sociolinguistics and historical linguistics. And I love the location (I love eastern part of the US). Moreover, the member of The Ivy Leagues. haihaihai.
Cornell UniversityI love the location. It is also the member of The Ivy Leagues. I love the campus panorama. My favourite professor, Bu Melanie Budianta is the alumni of this university. It has one of the best linguistic programs in the US. But... but... when it comes to historical linguistics and sociolinguistics, Cornell focuses only on the European or Indo-European languages. T___T
Stanford UniversityIt is one of the best universities in the U.S. It also has the BEST and the most complete linguistic programs. I just don't like the location. I don't like California.
University of Hawaii Manoa
It is probably not the best university in the US. However, it supports sociolinguistic and historical linguistic research on Austronesian languages (including bahasa Indonesia and Indonesian local languages). I like the panorama in Hawaii.... but I'm afraid of Tsunami and Russia's plan to have a missile test in the North Pole. XD
So, which one should be my priority? and which one do you think should I eliminate from the list? I can only choose three. [read]
Dedicated to My All-Time Favourite Linguist
Language is a process of free creation; its laws and principles are fixed, but the manner in which the principles of generation are used is free and infinitely varied. Even the interpretation and use of words involves a process of free creation.Noam Chomsky
The father of modern linguistics, should I say? He used to be a psychologist, before moving on further to linguistic studies. Now he studies politics with linguistic perspectives. I adore his interdisciplinary approaches. I'm really interested in his psycholinguistic theory about the language acquisition. The idea that we, humans, have a blueprint in mind containing knowledge about language. Okay, this theory has been criticized a lot. But at least, this theory has opened a new perspective on linguistics, that language is not simply a part of learning that involves human efforts, but also a part of God's secret that still can't be resolved until now. Chomsky pointed out mystery of languages that can't be explained rationally. For me, this shows that language is supra-rational, beyond our knowledge as a limited creature. And that shows there are things beyond us that our mind cannot reach. Language is one of them.
You're All Things That Shine and I'm All Things Darker

Again, these are just my thoughts and feelings on my current life. If you think they're crap, you may leave for your own good.
I have always felt that I never fit in almost anywhere. I could only get a long with several people, in my real life. Even in the internet, I couldn't be as outgoing as other people. The bad news is... some people think I'm arrogant, impolite, and ignorant because of that. Some people even consider me as a cold hard bitch, because I don't seem to care about other people.
These opinions have been really affecting me lately. For in working life, people think I don't meet the requirements as an UI graduate. I am not outgoing. I don't talk much. If I talk much, I cannot talk about things that could please others. I don't sound smart. I don't look smart. I'm lack of sociability. I cannot convince other people to at least listen to my arguments. I cannot start cool conversation with other people because I hardly share the same interest with most people I just met. I am not a Ms. Up to Date who knows every entertainment happening news. I like to talk more about history than future. I am a boring person and am easily bored by people. I am not confident in expressing my opinions, and when I finally could raise my confidence, people find that I am far too "loud". I don't know, I just get the sense that no matter what I do, either speaking up my mind or just keeping silent, people will still despise me.
In short, even If I graduated with good GPA and even if my lecturers were happy about my thesis, I still feel that I am not one of those qualified UI graduates.
I guess I will stop pursuing prestigious jobs, then. Being a teacher is already fine by me. I don't want to feel any more useless in other fields due to my lack of sociability. I know my capability. I can only speak fluently in classrooms (well, even in the classroom, I guess people wouldn't want to hear much about my opinions. But I love classroom activities, so I don't really mind being looked down on as long as I could do something I really like).
But I still put my hopes on studying abroad. Even if I would probably feel more terrible to adjust myself with people from other country, I still want to study a lot of things related to language and linguistics.
I want to find out more why there are people like me, who cannot communicate very well with any kinds of language. And I hope by mastering linguistics, I could apply what I've learned in the real life so that I could fix my relationship with my social environment. All my life, I've always had a terrible relationship with the world because I cannot communicate well with the world. It's so weird, when I really love to learn language but I don't love to communicate with it. I guess competence and performance are two really different things*.
Maybe I could put these ideas in my study objectives for Fulbright application. I know these ideas sound stupid, but that's what I feel from the bottom of my heart. That is the reason why I really want to learn language.
*For more explanation: In linguistics, Chomsky distinguishes between "competence" and "performance." To make the story short, competence is any knowledge you have in mind about a language (the pronunciation, the grammar, the vocabularies, the idioms, etc). While performance is the actual realization of how you use the language (your actual writings and speech). Sometimes these two are just too different. A person may know everything about a language, but in fact, they may be weak in the execution.
A Brief Introduction to My Undergraduate Thesis
Halo halo.... Hari ini saya mau memperkenalkan skripsi saya pada saudara2 sekalian. Sekalian bikin abstraksi sebenarnya, karena dari kemarin2 udah selesai bab 1 (pendahuluan) dan bab 2 (landasan teori), sekarang lagi jalan bab 3 (analisis) tapi masa gue lupa bikin abstraksi. wkwkwkwk. parah beud. ya udah. jadi ini abstraksi dari skripsi saya dan beberapa temuan-temuan yang saya dapat dari proses analisisnya. Jangan diplagiat ya. Kalau mau dicopas ke website lain atau dipublish di media lain di dunia nyata, bilang2 eike dulu dan jangan lupa kasih credit. Yang pasti email dulu deh ke midorima@kuririnmail.com I trust you guys. :D
ABSTRAK
Penulis : Rima Muryantina
Judul : Dialog Alex dan Jonathan dalam Film Everything is Illuminated: Analisis Tindak Tutur dan Implikatur Percakapan dalam Perbedaan Budaya
Bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari sering kali tidak semata-mata digunakan hanya untuk menyampaikan makna tertentu pada pihak kawan bicara,, tetapi juga untuk menunjukkan sikap kita terhadap kawan bicara maupun terhadap topik pembicaraan. Menurut J.L. Austin, sebagian besar tuturan yang diujarkan manusia mencerminkan tindakan manusia terhadap seseorang atau sesuatu. Konsep inilah yang kemudian ia sebut sebagai “tindak tutur.” Dalam tindak tutur manusia, terdapat daya pragmatik yang diharapkan terjadi setelah tuturan tersebut diujarkan. Daya pragmatik ini dapat disampaikan dengan cara langsung maupun tidak langsung. Dalam penuturan tidak langsung, sering kali terdapat implikasi-implikasi makna yang bervariasi dan biasanya tergantung dari konteks tuturan yang diujarkan. Salah satu konteks yang berperan penting dalam memahami makna implisit dari tindak tutur manusia adalah kebudayaan para peserta tutur. Dalam film Everything is Illuminated (2005) arahan Liev Schreiber, terdapat banyak tindak tutur dan implikatur dalam dialog tokoh Alexander Perchov dan Jonathan Foer. Sering kali kedua tokoh ini saling tidak memahami tindak tutur dan implikatur yang mereka gunakan dalam percakapan. Hal ini disebabkan oleh perbedaan latar belakang kebudayaan di antara kedua tokoh. Alex yang lahir dan dibesarkan di Ukraina sering kali tidak memahami konteks tuturan dan implikatur yang digunakan Jonathan yang lahir dan dibesarkan dalam keluarga Yahudi di Amerika, begitu pula sebaliknya. Tindak tutur dan implikatur yang dilakukan kedua tokoh dalam film ini saat berdialog akan dianalisis secara kotekstual dan kontekstual dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk lebih memahami teori Tindak Tutur dan Implikatur Percakapan serta dapat membantu menambah pemahaman mengenai konflik antar tokoh dalam film tersebut.
Kata Kunci: tindak tutur, implikatur percakapan, pragmatik, kebudayaan, film, konflik antar tokoh.
Beberapa hal menarik yang sudah saya temukan dalam proses analisis untuk skripsi ini:
1. Tindak tutur Alex yang selalu menyebut nama Jonathan sebagai "Jonfen" sebenarnya disebabkan karena ketidakfasihannya dalam berbahasa Inggris dan keterikatannya pada aturan fonologis dalam bahasa Ukraina. Dalam fonologi Ukraina, tidak terdapat fonem dental /Ɵ/. Fonem ini digunakan untuk melafalkan "th" dalam nama Jonathan seperti halnya untuk melafalkan "th" dalam kata "think", "thief", dan "thunder." Karena tidak terbiasa melafalkan fonem dental sebelumnya, maka Alex secara tidak sadar mencari bunyi yang mendekati fonem dental dalam fonologi Ukraina. Dalam kasus ini, Alex memilih bunyi fonem labiodental /f/ seperti pada kata "fish" dan "far" untuk melafalkan nama Jonathan.
2. Tindak tutur Jonathan saat ia meminta makanan tanpa daging di restoran tidak dapat dimengerti oleh Alex karena perbedaan kebudayaan yang berkaitan dengan makanan. Alex tidak memahami konsep "vegetarian" yang dimaksud oleh Jonathan karena dalam budaya Ukraina, daging merupakan salah satu makanan utama. Khususnya daging babi dan sosis. Jadi, konsep "tidak memakan daging" dianggap aneh oleh Alex yang lahir dan dibesarkan dengan budaya makan ala Ukraina.
3. Tindak tutur Jonathan ketika melarang Alex untuk menyebut kata "negro" tidak dapat dipahami oleh Alex karena adanya perbedaan Schemata (pengetahuan silam yang didapat melalui pengalaman) yang dimiliki keduanya. Kata "negro" bagi Jonathan yang mengetahui sejarah perbudakan kulit hitam di Amerika merupakan kata yang mengandung konotasi negatif karena dulunya kata ini memang digunakan sebagai alat untuk melakukan FTA (Face Threatening Act: Tindakan atau kata2 yang menyerang "muka" /mempermalukan seseorang) terhadap orang kulit hitam. Sementara itu, Alex yang merupakan orang Ukraina tidak memiliki pengetahuan mengenai sejarah ini dan kata "negro" di Ukraina memiliki makna yang netral dan tidak ofensif.
4. Terdapat juga kesulitan-kesulitan dalam pemahaman dalam konsep "tip" dan "vallet" yang sering digunakan di Amerika namun tidak familiar digunakan di Ukraina.
5. Meskipun pada umumnya perbedaan budaya membuat kedua tokoh sulit memahami masing-masing tindak tutur dan implikatur, ada beberapa tindak tutur dan implikatur yang dipertahankan dan dimengerti untuk menjaga kesantunan secara pragmatik. Inilah yang membedakan sopan santun dalam konsep sosiolinguistik dan kesantunan dalam konsep pragmatik. Sopan santun dalam konsep sosiolinguistik hanya menyangkut elemen-elemen bahasa yang dianggap sopan pada budaya tertentu, sementara kesantunan dalam pragmatik merupakan elemen bahasa yang sengaja dipilih untuk tidak menyakiti pihak kawan bicara secara universal, tidak peduli budaya apa yang mempengaruhi para peserta tutur (terima kasih atas penjelasan salah seorang dosen linguistik dari prodi Indonesia pada kuliah umum PMPK hari ini :D). Dalam rangka menjaga kesantunan pragmatik ini, kedua tokoh menggunakan tindak tutur dan implikatur tertentu. Sebagai contoh, tokoh Alex selalu menerjemahkan tuturan kasar kakeknya dalam bahasa Ukraina ke dalam bahasa Inggris yang lebih sopan untuk menjaga hubungannya dengan Jonathan yang merupakan kliennya. Hal ini juga menunjukkan adanya relasi kuasa antara tokoh Alex dan Jonathan, yang mana tokoh Jonathan sebagai klien memiliki dominasi atas Alex dan karena itulah kesantunan menjadi tujuan dari tuturan.
Introduction + Tragedi MacBeth
Dengan ini saya nyatakan bahwa saya pindah blog lagi *ketok palu*
Tadinya mau mengaktifkan wordpress atau multiply gue lg. tp tiba2 entah kenapa jd pengen iseng aja coba blogspot. hahahaahahhaah. *gak ada yg lucu, Rim. jangan ketawa dong*
oke setelah blog2 sebelumnya gue sembunyikan dari teman2 gue (gak jelas kan gue, bikin blog tp disembunyi2in). mulai sekarang gue akan membuka blog gue ini untuk umum. *ketok palu lagi*
Karena ini baru permulaan, maka saya akan memperkenalkan diri saya dulu.
Nama saya Rima Muryantina. Sebenarnya punya marga Hutagalung di belakang, tp di akte kelahiran nggak ditulis. Saya orang Batak, tapi sering disangka orang Cina. Ibu saya orang Jawa. Saya ngerti bahasa Jawa sedikit2. Tapi kalo diajak ngomong nggak bisa. Kalo bahasa Batak? Papa saya pelit. Nggak pernah ngajarin bahasa Batak. Terus dia pernah bilang "enak bisa ngomongin orang lain dalam bahasa planet tanpa harus ketahuan isi pembicaraannya"
sial.
alhasil bahasa batak gue cuma berkisar hitung2an 1-10 dan kata "hepeng". tp si Papa janji suatu saat mau ngajarin. awas kalo nggak.
ngomong2 soal bahasa, seharusnya saya merasa malu. karena saya gak bisa bahasa daerah, tp sok2 banyak2 belajar bahasa asing. Sekarang ini saya sedang kuliah di Program Studi Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Saya juga sedang ikut les bahasa Perancis di CCF Jakarta cabang Wijaya. Waktu SMA saya pernah belajar bahasa Jerman. Waktu SMP pernah les bahasa Jepang (dan waktu kuliah juga ambil mata kuliah pilihan bahasa Jepang sumber dan bahasa Perancis sumber). Oh ya, waktu SD saya pernah belajar bahasa Arab, tapi udah rada lupa. wkwkwkwkwk. XD
Intinya, saya suka belajar bahasa. Sekarang ini saya sedang fokus di bidang linguistik dan skripsi saya topiknya mencakup bidang pragmatik. Tepatnya, saya sedang fokus mengaplikasikan teori Implikatur Percakapan-nya H.P. Grice dan teori Tindak Tutur-nya J.L. Austin dan objek penelitian saya adalah dialog dua tokoh, Alex Perchov dan Jonathan Foer dalam film Everything is Illuminated. Itu film favorit saya, arahan sutradara Liev Schreiber.
Ngomong2 soal film. Saya waktu kecil suka sekali nonton film. Semua film dijabanin, mulai dari film kartun, horor, action, drama pokoknya semua film2 tahun 90-an terasa seru bagiku. Tapi akhir2 ini (sejak tahun 2000-an) bosen nonton film jaman sekarang. Dan lebih tertarik dengan film2 jadul yang diputar pas saya belum lahir. Jadi jangan heran kalau selera film saya jadul2 dan sering kali saya tidak nyambung kalau diajak ngomong tentang film masa kini. Hanya sebagian kecil dari film jaman sekarang yang saya suka. Dan rata2 film jaman sekarang yang saya suka itu tidak disukai oleh orang lain (contohnya ya Everything is Illuminated yang nyaris tak terdengar itu). Kecuali film2nya Dakota Fanning, New Moon aja gue jabanin kalo ada dia-nya. wkwkkwkwk. XD
Saya juga suka menulis. Dulu waktu SMA sering nulis esai, karya tulis ilmiah, dan cerpen (dan menang loh... *pamer*). Pernah juga coba nulis artikel di majalah remaja. Tapi itu dulu, waktu masa kejayaan saya. Sekarang sih udah kuliah, terlalu sibuk nulis makalah jadi jarang ikut lomba2an lagi. Terakhir cuma menang lomba puisi terus puisinya dipajang di Antologi Puisi (itu jg lombanya diadakan sama Markas Sastra, organisasi kampusku saja. tarafnya nggak nasional lagi kyk dulu ---> berasa kena post-power syndrome). Sekarang sih lg enjoy nulis skripsi aja. Kadang2 nulis puisi. Kalau ada waktu nulis blog. Kalau lebih banyak waktu lagi, baru nulis cerpen (biasanya kalau liburan).
Akhir2 ini juga suka fotografi. Tapi masih amatir sih. Kemarin baru nyoba ikut lomba fotografi yang diadakan organisasi2 di kampus. Tapi belum tahu hasilnya (tapi nampaknya kemampuan fotografiku masih sangat cetek, jadi saya pesimis). XD
Oh ya, saya ini terobsesi dengan warna hijau. Saya suka membeli barang-barang berwarna hijau. Jadi kalau pernah ketemu cewek pake jilbab dari ujung rambut sampai ujung kaki pakaiannya hijau semua (sampai ke tas2nya), bisa jadi itu saya. Tapi sekarang saya sudah mulai bertobat, kok. Sudah mulai terbuka dengan warna-warna yang lain. XD
Itulah sedikit tentang saya. Jadi, apa yang saya akan tulis di blog ini tentunya nggak terlalu jauh dari skripsi saya (sabar ya saudara2), linguistik, puisi/cerpen, atau hobi-hobi saya yang lain. Kadang-kadang saya juga akan cerita tentang kehidupan sehari-hari saya. Tapi mulai sekarang saya mau latihan untuk menahan diri untuk menuliskan hal-hal pribadi dalam bentuk puisi saja biar nggak ketahuan. X)
Kecuali kalau saya "khilaf" atau udah "nggak tahan," maka jangan terkejut kalau ada hal2 sensasional yang saya tulis di sini. Tapi saya akan berusaha untuk tidak khilaf kok, tenang saja. wkwkwkkwkwk.
Oh ya, untuk pembukaan (biar isi blognya nggak cuma perkenalan aja), saya mau memberitahu saudara2 sekalian (sah bahasanya) bahwa saya tadi baru saja menonton pertunjukkan teater Macbeth di Taman Islamil Marzuki, Jakarta. Jarang2 loh saya nonton teater. Berhubung yang main adalah teman2 saya, anak2 Teater Sastra UI, maka saya datang ke sana (telat tapinya. kuningan macet soalnya. wkwkwkwk. ---> alasan!)
terus berhubung sudah larut malam dan saya tipe cewek alim gt deh... anak perawan kan nggak baik pulang malam2 (kamuflase dari kata "anak mami") saya tidak nonton teaternya sampai selesai. pas istirahat 15 menit langsung ngacir pulang. tapi beneran loh, nyampe rumah jam stengah sebelas malam aja Papa-Mama sudah berpidato (eufimisme dari kata "ceramah" dan "khotbah" karena entah kenapa kedua kata ini terasa kasar kalau ditujukan untuk orang tua).
Oke, balik lagi ke Macbeth, kalian semua pada tahu kan kalau Macbeth itu drama karya William Shakespeare yang berdasarkan legenda Skotlandia tentang panglima yang membunuh rajanya sendiri karena terpengaruh ramalan 3 orang penyihir. Terus untuk menutupi kejahatannya ia harus membunuh orang2 lain lagi (jadi kejahatan ditutupi kejahatan). Tapi akhirnya dia malah dihantui oleh rasa bersalahnya sendiri. Ya kira2 begitu. gue baca Macbeth pas mata kuliah SKB (Sejarah Kesusastraan Britania) aja sih. jadi rada lupa.
Untuk pertunjukkan yang barusan, menurutku akting para pemainnya bagus2. Suara mereka lantang dan pengucapannya jelas. Emosinya dapet. Teks terjemahan ke Indonesia-nya mantap banget karena yang gue baca dulu teks bahasa Inggrisnya. dan gue tahu susah buat nerjemahin bahasanya Shakespeare ke dalam bahasa Indonesia tanpa menghilangkan emosi para karakternya. Tapi Mas Yudhi (dosen dramaku) kayaknya yang nerjemahin. Walhasil keren deh. No doubt.
Oh ya, dekorasinya juga mantap. Tata suara dan musiknya juga bagus. Kostum dan tata riasnya lumayan. Well done lah pokoknya. Meskipun nggak nonton sampai habis, saya cukup puas nontonnya.
Ya, sekian dulu deh cerita2 dari saya. Besok dilanjutin lagi. Udah malam nih. :)
Amitié ^^ V
PS: kasih saran untuk layout dong. masih gapspot nih (gagap blogspot) XD







